Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 7 Part 1

     Pagi hari, Mikuri dan Hiramasa sarapan bersama. Mikuri mengatakan pada Hiramasa kalau hari ini dua emprit jepang datang ke balkon. Hiramasa menanyakan keadaan emprit jepang yang warna putih apa sehat?. Mikuri  menjawab yang putih sehat.

“Baguslah baik-baik saja” Hiramasa mengucap syukur.

“Iya,”

(Boleh aku ketawa? 😀 , mereka kayak ngomongin anak. Mamah… apa si adek sehat? Yang kakak sudah ngerjain pr atau belum? #abaikan)

     Mikuri mulai berkhayal lagi, kali ini sebuah bus mini kuning bertuliskan bus emprit jepang berhenti di dekat makanan Tsuzaki. Mikuri mini keluar dari dalamnya dengan seragam. Mikuri mini menunjuk Hiramasa Tsuzaki yang tengah makan.

“Perkenalkan, ini adalah bosku. Tsuzaki Hiramasa.” Mikuri mini menceritakan pada pemirsa tentang ciuman tiba-tiba dari bosnya itu.

      Mikuri mini heran sekali, Hiramasa tiba-tiba menciumnya lalu melepaskan genggaman tangannya. Hiramasa kaget sendiri, seketika menjadi amnesia.

“Maaf” katanya masih setengah sadar. Kemudian terburu-buru keluar dari kereta sambil membawa barang-barangnya, meninggalkan Mikuri yang butuh penjelasan. Mikuri ikut keluar dan memanggilnya tapi tidak digubris oleh Hiramasa.

     Di dalam bus perjalanan pulang pun Hiramasa tidak berbicara apapun, malah tidur seperti balok kayu. Yang pasti Mikuri tahu itu hanya pura-pura. Sesampainya di rumah Mikuri hendak bertanya soal tadi “Anu, Hiramasa-san… yang tadi itu?”

“Akh!” Pekiknya tiba-tiba, berusaha menghindari objek. “Aku lupa bersiap untuk pekerjaan hari Senin.” Katanya tanpa berani menatap mata Mikuri. Mikuri mengatakan, tapi ini kan masih hari Sabtu?. Hiramasa kembali mencari-cari alasan, alasannya karena butuh butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu Mikuri bertanya perlukan dia memasak makan malam?. Hiramasa menolak dengan halus, dia bilang ini hari liburnya Mikuri… jadi Hiramasa makan dengan mie cup saja sudah cukup, Mikuri tidak perlu mengkhawatirkannya. Hiramasa masuk ke kamar, melarikan diri.

     Mikuri mini kesal, sejak saat itu Hiramasa-san benar-benar mengabaikan kejadian itu. Tidak ada sentuhan, tidak ada reaksi setelahnya. Mini Mikuri bertanya-tanya, sebenarnya apa yang salah dengan orang ini?. Katanya sambil memandang bosnya dengan jengkel.

     Mini Mikuri meringis, kembali ke bus dan memundurkan busnya. Bus langsung menghilang entah kemana.

     Mikuri menanyakan rasa sup miso hari ini ke Hiramasa. Hiramasa menjawab diplomatis, enak seperti biasanya.

“Syukurlah” kata Mikuri. Dalam hati Mikuri mengatakan, karena masakan di penginapan enak sekali… dia terinspirasi membuat dashi otentik. Dashi merupakan kaldu masak khas Jepang. Pagi ini ia bangun awal dan membuat kaldu dari ikan bonito kering.

Ini adalah sup miso spesial. Mikuri rasa itu bukan masalah, yang menjadi masalah bagi Mikuri adalah.. apa sebenarnya maksud Hiramasa-san?. Mikuri pagi tadi menyamakan keadaannya seperti ikan yang dipanggang. Hiramasa menyalakan api dan meninggalkannya begitu saja, bagaimana kalau apinya menyebar?

Ikan di depan mata Mikuri terbakar. Seperti keadaannya sekarang, Hiramasa-san telah memberikan harapan pada Mikuri, tidak begitu jelas maksudnya Hiramasa-san.. akan tetapi bisa membuat hati Mikuri bergejolak tidak menentu.

“Apakah kau ini seorang pembakar?”

Mikuri sekarang menanyakan bagaimana ikannya?. “Ini enak. Kau belum pernah memasak ikan ini sebelumnya, kan ya?” jawab Hiramasa.

“Iya. Ini kisu bakar”

      Dengar kata kisu bakar membuat Hiramasa tersedak. Padahal Mikuri maksud adalah jenis ikan ini kisu, bukannya kissue kiss (kkkkk)

Mikuri dengan damai memandangi Hiramasa yang terganggu dengan kata kisu. Hiramasa terbatuk sekali dua kali. “Oh iya, ini enak..” katanya Hiramasa dengan canggung. Mikuri hanya mengangguk saja mengiyakan.

     Mikuri melakukan tugasnya bersih-bersih seperti biasanya. Jika Hiramasa-san mengabaikannya sampai sejauh ini… Mikuri pikir ini… apakah ini hanya ilusinya semata?. Mikuri membayangkan dirinya sebagai tunawisma dan duduk di pinggiran rumah orang pada malam bersalju.

Mikuri menggesekkan batang korek apinya ke tanah untuk menghidupkannya. Tiap satu nyala maka akan menimbulkan kenangannya bersama Hiramasa-san. Pertama-tama saat mereka dalam perjalanan melamar Mikuri, pertemuan dua keluarga, kebersamaan yang telah mereka lalui bersama.

Lelah mencari pekerjaan…, seorang wanita sedih, tak dibutuhkan oleh siapa pun, dan tak punya tempat tujuan… melihat sebuah ilusi di ambang kematian. Bulan madu palsu yang juga liburan kantor, juga ciuman di kereta, semuanya. Semuanya, semuanya.. hanya ilusiku”

Tiap nyala api mati, Mikuri mengulangi lagi lagi dan lagi menggesekkan batang koreknya ke tanah. Dan tiap kali apinya menyala, semua kenangannya bersama Hiramasa-san datang dan itu membut tunawisma Mikuri senang.

Tunawisma Mikuri menghabiskan banyak sekali korek api, ia berbaring di bawah dengan lesu, bulir-bulir salju mengotori pakaiannya. Pada akhirnya tunawisma Mikuri menyadari kalau ini hanyalah ilusinya.

Mikuri sedih dan memegangi bibirnya sendiri, meskipun semuanya itu membahagiakan.

*~We Married as Job || Nigeru Wa Haji da ga Yaku Ni Tatsu~*

     Hiramasa mendekati Hino, ia menyodorkan sesuatu ke Hino. Hino tidak tahu apa itu, Hiramasa membisikkannya sesuatu.

“Oh, minuman pit viper?” katanya keras-keras, membuat pegawai lainnya menoleh curiga.

“Kau tidak perlu mengatakannya!”

Hino bertanya apa Tsuzaki tidak meminumnya?. Tsuzaki meletakkan obat kuat ekstrak kobra itu ke meja dengan jijik. Tsuzaki meminta maaf, dia tidak akan pernah meminumnya. Hino menyesal, padahal dia sudah memberikannya ke Tsuzaki, seharusnya Tsuzaki meminumnya!.

“Itu adalah sesuatu yang takkan pernah kubutuhkan selama hidupku. Aku hanya akan menerima niat baikmu. Terima kasih.”

Ucapan Tsuzaki yang ambigu otomatis membuat Hino melirik ke bawah, syok sendiri. Ketika Tsuzaki pergi dia bergumam takjub “Tsuzaki-san ternyata hebat, ya.” Dipikirnya Tsuzaki sudah hebat tanpa perlu minum yang begituan. (ahahahahahahahaha XD )

     Hiramasa kembali ke meja kerjanya. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya ini, ia ini adalah jomblo profesional yang tidak mudah jatuh cinta, tidak mengambil langkah selanjutnya dan atau lebih tepatnya ia tidaklah perlu untuk melanjutkannya (perasaannya). Dengan begitu maka ia akan merasakan ketenteraman.

Tiba-tiba jari Tsuzaki berhenti mengetik. Pada saat itu di kereta, ia tidak bisa menahannya lagi, ia pikir ia dan Mikuri memikirkan hal yang sama.

“…Sangat manis,”

Tsuzaki mencium Mikuri, mengikuti nalurinya. (makanya dia syok dan langsung amnesia setelah menciumnya *dasarpria!. Tapi menurutku self controlnya Tsuzaki Hiramasa keren sekali lhoo selama ini..)

     “Aaaaaaaaa….!!!” Teriak seseorang dari salah satu bilik toilet.

Nabe yang kebetulan juga ada di toilet pun menoleh terkejut. Nabe tanya ke Tsuzaki yang baru keluar dari bilik, apa barusan Tsuzaki teriak?. Tsuzaki dengan santai bilang tidak. Nabe lalu pergi.

Tsuzaki mencuci tangannya sambil masih melamun. Ia merasa ada yang sangat aneh dengan dirinya, tapi apa itu dirinya sendiri pun tidak mengerti. Kenapa Hiramasa mencium Mikuri waktu itu. Kenapa ia bisa terbuai oleh bulan madu palsu (Karissa tahu!, ehem!~ keponakanmu ini tahu om… om lagi jatuh cinta. #mintaDijewer XD)

      Tsuzaki pergi membeli buku teka-teki Sudoku, sepertinya sedang berusaha keras untuk mengalihkan fokus pikirannya ke hal yang lain. Gara-gara terbuai bulan madu palsu. Dalam hati Tsuzaki bersikeras, ia hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia dan Mikuri memikirkan hal yang sama.

Tsuzaki pergi ke kasir untuk membayar bukunya.

     Tidak tunggu waktu lama Hiramasa pun langsung mengerjakan sudokunya, sambil mengerjakan dia sambil memikirkan Mikuri. Hiramasa tahu Mikuri meski tidak bicara secara langsung soal kejadian kissue itu, ia yakin Mikuri sangat kesal. Jika dia mulai membenci Hiramasa dan mengundurkan diri… lantas apa yang tersisa untuk Hiramasa?

Dari luaran Hiramasa terlihat sangat fokus mengerjakan kotak demi kotaknya, terus membalik lembarannya, sepertinya es di mejanya tidak banyak disentuh. Padahal pikirannya sedang melayang-layang di hal yang lainnya.

   Lalu ia berhenti mengisi angkanya, menatap kamera dan mulai curhat “Begitu, ya… Untuk orang seusiaku ini, tentu saja, paling tidak… sudah pernah mencium seseorang.”  Katanya ramah pada penonton, pada kita *kkkkkk

Yap, Hiramasa mensyukurinya daripada terus menerus menjadikan beban pikirannya. Paling tidak 35 tahun dia sudah pernah mencium seseorang,

 (please jangan kaget, dia kan jomblo profesional~ 35 tahun aja belum pernah pacaran.. XD )

Tapi dia juga kesal pada dirinya sendiri, sekarang dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan bangga padahal dulu ia tutup-tutupi dengan bangga jangan sampai pernah ada yang tahu. Hiramasa menutup buku sudokunya, menghembuskan nafas dengan berat dan frustasi. Heran sendiri kenapa bisa bersyukur gara-gara insiden mencium Mikuri sebelumnya.

Hiramasa menghabiskan banyak waktu di tempat ini, ia sampai sudah memesan kopi setelah es tadi.

    Hiramasa sengaja pulang larut agar tidak melihat Mikuri. Ia berjalan mengendap-endap di rumah sendiri. Siapa sangka ketika membuka pintu kamar dengan hati-hati Mikuri malah bangun dan menghidupkan lampunya. Mikuri menyambutnya, kemudian berjalan mendekati Tsuzaki.

Tsuzaki tadi sudah memberitahu Mikuri kalau akan pulang telat dan menyuruhnya tidur duluan. Mikuri menajwab dia sudah membaca pesan Hiramasa, akan tetapi hari ini adalah selasa. Hiramasa terkejut, dia menunjuk jam dinding yang sudah lewat tengah malam, artinya sekarang sudah hari Rabu.

     Mikuri tidak menghiraukannya, ia menatap memelas pada Hiramasa dan membuka lengannya minta dipeluk. Hiramasa tidak ada pilihan lain selain memeluk Mikuri, ia permisi dulu sebelum memeluknya. Lalu mengucapkan selamat malam dan kembali ke kamar.

     Mikuri menyadari ini tidak adil, rasanya seperti Hiramasa memeluknya karena terpaksa tadi. Mikuri pikir Hiramasa mungkin menyesali ciuman waktu itu.

     Hiramasa di kamarnya, ia khawatir… apa tidak apa-apa menganggap tidak pernah terjadi apapun diantaranya dengan Mikuri dan menjalani hari-hari seperti biasanya?.

Mikuri sendiri pun juga tidak bisa langsung tidur, ia merenung menatap bulan purnama. Ia rasa tidak bisa bersikap berpura-pura tidak terjadi apapun.

Hiramasa mencoba memejamkan matanya untuk tidur, ia sangat berharap semuanya seperti biasanya kembali walau hanya sehari (tanpa cinta, hanya hubungan bos dan pegawai).

     Di hari lainnya. Mikuri bekerja di rumah Kazami, Kazami menanyakan bulan madunya Mikuri dan Tsuzaki kemarin, akhirnya Mikuri dan Tsuzaki melewati batas juga. Mikuri menyela bukan seperti itu, ia dan Tsuzaki bukannya melewati batas… malah salah jalan.

“Salah jalan yang seperti apa?”

Pertanyaan Kazami enggan Mikuri jawab, ia mencoba mengalikan topiknya dengan bertanya apa Kazami tidak berangkat kerja?. Kazami bilang sabtu sudah berangkat kerja, jadinya sekarang dia libur.

“Kazami-san! Minggir!” Mikuri mengusirnya dari tempat duduk untuk dibersihkan. Kazami agak terkejut ternyata Mikuri bisa emosional juga orangnya. Mikuri masih sambil menyapu, ia menggerutu dia aslinya memang begini… sebelumnya dia hanya berpura-pura tenang saja, bahkan domba pun akan menunjukkan sikap aslinya jika tidak tenang.

Kazami menduga Mikuri sedang tidak tenang sekarang. Mikuri berhenti menyapu dan menatapnya tajam. Menyuruh Kazami jangan mengatakan hal seperti itu dengan begitu bahagia.

Menurut Kazami sisi Mikuri yang emosional menarik juga. Mikuri lalu berandai-andai jika saja Kazami adalah pasangannya, Mikuri bisa dengan jelas mengerti kalau Kazami mungkin sedang melakukan trik, strategi untuk menggetarkan hatinya Mikuri. Menggodanya dan semacamnya. Namun, jika orang yang berbeda… Mikuri sama sekali tidak mengerti harus berpikir apa. (Tsuzaki Hiramasa yang lain dari yang lain XD )

       Tanpa peringatan Kazami langsung menarik Mikuri ke dalam pelukannya. Bertanya apa sekarang Mikuri berdebar-debar karena dipeluk Kazami?. Mikuri tersenyum geli  dan menyingkirkan tangan Kazami “Tolong jangan bercanda!”. Kazami mundur dengan tangan terangkat. Mikuri kembali bersih-bersih.

     Kazami makan dengan Yuri. Kazami mengatakan kalau orang sepertinya memang sulit dipercaya dan dianggap hanya main-main, berbeda sekali dengan Tsuzaki-san dan itu membuat Kazami iri.

“Ada yang bilang begitu?” tanya Yuri

“Aku mencium Mikuri-san”

“Hah?!” Yuri kaget.

Kazami segera menjernihkan kalau bukan begitu maksud sebenarnya. Yuri tenang kembali setelah mendengarnya, kata-kata Kazami itu tidak baik untuk kesehatan jantung Yuri.

“Tampang dan kepribadian Tsuzaki sama-sama tulus, jadi dia bisa menemukan cinta sejati.” Kata Kazami.

“Aku tidak… tak memahami perasaanmu. ‘Tidak mungkin Tsuchiya menerimaku sebagai pasangannya.’ “

Kazami jadi berpikir Yuri Tsuchiya pasti populer saat muda. Yuri agak malu mengiyakannya, Yuri merasa mungkin Yuri bukan populer dalam artian yang sebenarnya.

“Itu menyakitkan” kata Kazami, mungkin Kazami mengeluhkan kepopulerannya sebagai pria tampan sangat menyakitkan. Yuri harus pergi, ia hendak membayarkan makan siang mereka tetapi Kazami mencegahnya  mengambil dompet

“Ini aku yang bayar” kata Kazami sambil menyerahkan dompet Yuri.

Yuri mengendus ada yang tidak beres, apa Kazami dengan kata lain nanti harus menurut jika Kazami minta ditraktir?. Kazami menjawab dia hanya melakukannya karena kelihatannya Yuri-san tidak suka ditraktir orang lain.

“Jadi kau sudah tahu, kan?” kalau sudah tahu kenapa mentraktirnya?, Yuri lumayan kesal.

“Makanya aku yang bayar”

“kau mengangguku?”

“Apa kau kesal?”

Yuri menjawab tidak juga, itu karena Yuri sudah mengubah pandangannya tentang pria ganteng menyebalkan pada Kazami. Kazami tidak seperti yang Yuri pikirkan sebelumnya.

“Aku bukan pria ganteng yang menyebalkan lagi.”

“Sekarang kau ponakan bermuka tebal” Sahut Yuri ketika mengambil dompetnya. Yuri lalu pergi dan Kazami mengikutinya, ia menggoda Yuri bagaimana kalau panggil Yuri dengan sebutan Tante karena tadi katanya Kazami kan ponakannya? *kkkkk. Yuri mendorongnya menjauh, Kazami hanya tertawa.

*~We Married as Job || Nigeru Wa Haji da ga Yaku Ni Tatsu~*

      Makan siang di kantor. Tsuzaki dan Hino mengobrolkan ulang tahun istri, Hino bilang dia sudah kehabisan ide untuk memberikan hadiah karena sudah 10 tahun pernikahan. Lalu bagaimana dengan Tsuzaki-san?

Tsuzaki menjawab dengan santai kalau ulang tahun istrinya belum lewat…

Terbersit tanggal lahir Moriyama Mikuri di dokumen pernikahan mereka, 9 September 1990. Tsuzaki buru-buru mengecek tanggal berapa sekarang di ponsel, sekarang tanggal 7 Oktober.

“Ada apa?” tanya Hino

“aku lupa ulang tahunnya.”

“Hah? Istrimu?” Hino kaget. Kebetulan Kazami tak jauh dari sana, ia juga dengar perkataan mereka barusan.

“Sudah hampir sebulan lalu.” Tsuzaki menyesal.

“Kau bercanda, ‘kan? Kau tak memberinya apa-apa?”

“Tidak.”

Hino bertanya, bagaimana dengan ucapan selamat ulang tahun?, apa Tsuzaki mengatakannya ke sang istri?. Tsuzaki menjawab tidak.

“Wah!”Hino tidak percaya Tsuzaki setega itu.

“Akan tetapi, kami adalah pasangan menikah yang tak melakukan apa pun.”

“Tidak bisa begitu.”

“Kalau tak menghargai hal-hal kecil, kalian akan bercerai di masa tua.”

“Dalam kasus kami, malah aneh jika aku melakukan sesuatu.”

Hino menjelaskan itu tidaklah aneh, yang salah adalah karena Tsuzaki menganggap itu aneh maka jadi aneh. Tsuzaki tetap teguh dengan kata-katanya, dalam kasusnya itu akan menjadi aneh. Hino pun juga sama percayanya dengan pemikirannya sendiri

“Bukankah bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh?” kata Hino sambil mengunyah (lol wkwkwk)

“Bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh, tidak aneh, tak… aneh atau tidak aneh?” Tsuzaki bingung sendiri dengan terlalu banyak kata aneh, (aku mau bentak dua orang ini boleh?, kalian tuh yang aneh!! -_- *kkkkk)

      Kazami ikut dalam pembicaraan, menurutnya tidak perlu terlalu memikirkan soal itu (perhatian ke istri pas ultah). Kazami menceritakan saat ini ada wanita yang dia pekerjakan di rumahnya untuk bersih-bersih seminggu dua kali.

“Oh, seperti Tsuzaki-san sebelum menikah.” Kata Hino.

“Dengar-dengar ulang tahunnya di awal bulan September.”

Tsuzaki dan Hino melongo. Hino terkejut, hah? Sama dengan istrinya Tsuzaki-san!. Sedangkan itu Tsuzaki menatap Kazami tanpa ekspresi (dia cemburu kah?. Atau jengkel kenapa Kazami tahu ultahnya Mikuri?)

“Aku dengan santai… memberinya hadiah.” (ahahahahaha… oooh Kazami mau pamer ceritanya nih?)

“Kau memberinya hadiah?” tanya Tsuzaki

“Iya,”

Tsuzaki lalu bertanya apa yang Kazami berikan ke wanita itu? (Mikuri). Kazami menjawab ia memberikannya teh Sri Lanka yang lumayan enak.

Tsuzaki ingat saat ngeteh malam-malam dengan Mikuri, rupanya itu hadiah dari Kazami ?. Tsuzaki syok, Hino memuji Kazami hebat sekali bisa memberikan hadiah sesantai itu. Tsuzaki terlihat menderita dengan fakta itu.

“Hah? Apa kau tertekan, Tsuzaki-san?” tanya Hino saat melihat Tsuzaki ekspresinya tidak karuan. Seperti mau mati di tempat saja.

(ahahahahahahaa…. XD )

Tsuzaki bilang tidak, bukan begitu. Kazami semakin menekan Tsuzaki dengan mengatakan pekerja yang dia rekrut itu mendekati tipe idealnya Kazami. Seketika mendengar itu, Tsuzaki langsung menatapnya tajam.

Kazami menyayangkan, kalau wanita itu bukan orang yang terus terang. Benar ‘kan, Tsuzaki-san?

“Kenapa Tsuzaki-san?” Hino heran kenapa Kazami bilang begitu. Kazami menambahkan kalau Tsuzaki juga kenal wanita yang Kazami maksudkan.

“Kami sering membahasnya.”

Hino jadi mengerti kenapa Kazami dan Tsuzaki terlihat dekat belakangan ini.

Komentar:

      Duuh… episode 7 T_T. Sebentar lagi tamat dong~ ~ ~ ~

Lucky seven!. Semoga yang lagi baca seneng dengan tulisanku, dan semoga yang lagi gak bisa tidur bisa nyenyak tidurnya, kalau gak bisa tidur selama 8 jam… at least 6 jam/kurang dari itu, tapi tidurnya semoga berkualitas dan segar waktu bangunnya. Yang belum 25 tahun jangan kebanyakan begadang gak perlu ya… gak bisa tinggi loh nanti! Selagi masih bisa tumbuh, mari jaga pola hidup! *ciao! #ngelantur_modeOnwe-married-as-job

Eiiitsss… jangan langsung kabur setelah baca 😉 , tunjukkan rasa sopan santunmu dan berterimakasihlah atas sinopsis yang baru saja kalian baca, hargai kerja keras dan dukung authornya terus berkarya dengan like FP baru blog ini>>>>>> FANPAGE

Advertisements

About Karissa Yi

Someone who can't live without drama. ["chariszha.com" - Can't Life without drama ]

Posted on 7 December 2016, in We Married as Job and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. Terima kasih Charissa sinopsisnya, semoga sehat selalu, semangat

  2. @senie, sama-sama, makasih ^^ dan Aamiin. Semangat!

  3. Aku selalu menantikan sinopsis nya… Ngk sabar nunggu sinopsis selanjutnya. Semangat ya!!

  4. terimakasiih ditunggu klanjutannya y ..^^

  5. Thx chariszha….. sinopnya
    Penuturannya gampang dimengerti & aku suka bgt krn plus ada bumbu komentar penulis d tengah2 crita.
    Cemunguuth ya lanjutin smp ep akhirnya 😚💪

  6. Terima kasih banyak atas sinopsisnya..

  7. Terima kasih sinopsis nya.
    Gak sabar nunggu part 2 nya, apalagi habis ngintip youtube episode 8 (jadi baper)

  8. Thanks Charizsha… love this j dorama very much!!

  9. Arigatou gozaimasu karissa
    Suka bgt drama ini, lucu n unik. .
    Semangat!!! Ditunggu ep slnjutnya

  10. Itu pas bagian ngayal nyalain korek api….kayanya mikuri ngayal jadi pemeran gadis korek api .dongengya mbah Hans Cristian Anderson…(nasibnya bikin nyesek mati kedinginan )…karissa terima kasih, semangat terus bikin sinopnya…di tunggu part 2,3…

  11. Mantap.. Lucu. …. Imut… Sukar dijelaskn… Pokoknya suka pake banget

  12. @annisa, iya ya? aku rada lupa namanya apa, jadi ditulis tunawisma aja di recapannya. *wkwkwk
    @all, meski tidak bisa membalas satu persatu tapi aku membaca semuanya, dan banyak2 terima kasih :D, mood booster banget!, sangkyu minna-san!

  13. anggia novkania

    mksih charisa…. selalu suka… n menunggu sinopsisnya…. walaupun bntr lg tamat… ga pa2 dech… mdh2n ga bosen bikin sinopsis yg lain jg…. suka sekaliii….

  14. the big dipper

    aku sukaaa bgt dorama ini. bikin gregettt. kadang2 keseeellll om harimasaa nya terlalu lamaaa bgt. beda bgt sm biasanya drama korea yg cowoknya lngsung to the point. tapppiii aku bner doki doki bgt ama om harimasa

  15. Makasih, kak sinopsisnya, ditunggu buat part selanjutnya.. 😃😀😊😉☺ ganbate!!

  16. Makasij….. serrruuuu.semoga sehat terus.amin.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s