Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 3

       Tsuzaki agak kelelahan, dia berbaring dan Mikuri mengipasinya. Setelah kondisinya agak mendingan Tsuzaki bangun, mempersilahkan Mikuri jika ingin berendam. “Baik,” kata Mikuri.

      Mikuri berendam di bawah langit berbintang sambil memikirkan Hiramasa-san, “Apakah akan baik-baik saja? Tempat di dalam Hiramasa-san. Apakah aku bisa memasukinya?”

Ketika selesai berendam, Mikuri lihat Hiramasa sudah berbaring di kasur. Mikuri menjemur kain putih dulu sebelum ikut berbaring. Kemudian ia kembali ke kamar dan masuk ke selimutnya. Hiramasa merasakan kasurnya beregetar, itu artinya Mikuri sudah bersiap untuk tidur.

      Mikuri mematikan lampunya, melirik ke arah Hiramasa-san sekilas lalu memejamkan matanya mencoba tidur. Hiramasa sangat khawatir jika ia melakukan kesalahan tanpa dia sengaja.

“Tanganku mati rasa. Tapi kalau aku bergerak, akan jadi salah paham dan itu buruk. Ini adalah perjalanan kerja, kalau aku salah pergerakan akan jadi pelecehan seksual. Ini bencana. Bagaimana cara pria di dunia ini agar bisa tidur setempat tidur dengan seorang wanita?. Seharusnya aku mencarinya di google lebih dulu. Situasi seperti ini bukankah sangat tidak normal?”

Berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan. Mikuri di sampingnya hendak menyentuh Hiramasa, ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati, dalam jarak beberapa cm saja Mikuri hampir bisa menyentuh punggungnya, akan tetapi diwaktu yang sama Hiramasa bergerak. Mikuri pura-pura tidur, memejamkan matanya.

    Hiramasa tidak bisa tidur, dia menoleh ke kiri melihat Mikuri yang terpejam. Mikuri yang pura-pura tidur sepertinya mengharapkan sesuatu, tapi nyatanya Hiramasa malah pindah tidur di bawah.

Menyumpal telinganya dan menutup matanya, berbaring di lantai. Mikuri mengamatinya, lalu berbaring lagi dengan kecewa.

     Pagi harinya, Tsuzaki Hiramasa senang sekali karena tindakannya menutup mata dan telinga berhasil membuatnya tidak menyadari kehadiran Mikuri. Hiramasa semalam tidur dengan nyenyak. Aku berhasil menjadi jomblo profesional!.

      Mikuri di dalam kamar mandi, dia amat sangat kecewa pada dirinya sendiri. Ia menuliskan uneg-unegnya ke cermin yang berembun [Pakaian dalam baru, tidak ada gunanya, sebuah pagi di musim gugur.]. ”Apa yang sudah diriku sendiri lakukan?

Kalau dipikirkan kembali selama ini hanya Mikuri yang berinisiatif, ayo menikah! Mari berpacaran! Mari pelukan!. Semua itu adalah inisiatifnya Mikuri sendiri, ia pikir Hiramasa-san tidak menolak karena Hiramasa-san adalah orang yang baik. Mikuri sudah lelah seperti ini.

Dengan kasar ia menghapus tulisan di cermin.

     Mikuri dan Hiramasa sarapan. Kalau biasanya Mikuri yang mengajak bicara duluan, kali ini Hiramasa yang mulai duluan. “Sarapannya enak, ya?”

“Lumayan lah.” Kata Mikuri ketus.

“Lumayan? Jadi begitu ya?” Hiramasa bingung dengan jawaban Mikuri.

      Tiba-tiba seseorang memanggil Mikuri “Moriyama?” ketika Kaoru sudah yakin ia langsung sok akrab “Moriyama-chan!” Tsuzaki agak terkejut dan Mikuri malas bertemu Kaoru disaat suasana hatinya sedang jelek seperti ini.

Kaoru langsung mendekati Mikuri dan mencoleknya, kenapa Moriyama-chan  bisa ada di sini?, Kaoru terkejut melihat Hiramasa dan segera memberinya salam. Mikuri dengan tidak nyaman memperkenalkan Kaoru adalah teman sekelasnya di SMA.

Dengan pedenya Kaoru malah bilang “Aku mantan pacarnya Moriyama!”

Mikuri sebal dengarnya, apa perlu Kaoru mengatakan hal semacam itu?. Kaoru juga membeberkan informasi tanpa diminta “Menurutku dia sangat menyebalkan. Dia cerewet sekali. Yah, tapi dia bukan orang jahat sih. Mikuri memandang Hiramasa, ia harap Hiramasa menyelamatkannya dalam situasi tidak menyenangkan ini.

Kaoru mulai berceloteh tentang kenangan mereka, dulu saat pergi ke kafe Shibuya, di depan toko Mikuri menceramahi Kaoru.

    Mikuri tidak tahan, dia berdiri “Itu karena kau tak seharusnya bicara hal yang tidak penting. Kenapa di tempat seperti itu..”

Tidak sesuai harapan Mikuri, Hiramasa justru izin pergi dan mempersilahkan Mikuri mengobrol dengan Kaoru.

    Hiramasa-san pergi, Kaoru dan yang lain memperhatikan kepergiannya. Pasangannya Kaoru pikir apa pasangannya Mikuri marah?, Kaoru menduga seleranya Mikuri terhadap pria sudah berubah sekarang. Mikuri dengan lemah mengatakan bahwa seleranya terhadap pria tidak berubah.

“Apa?” Kaoru tidak mengerti.

“Aku baru menyadarinya.” Mikuri terduduk lemas,

Hiramasa-san pergi menjauh.

     Yuri berangkat kerja, ia mendekati Kazami yang berjalan lebih cepat.”Selamat pagi!” sapa Yuri

“Selamat pagi!”

Yuri mengungkit semalam, ia rasa dirinya telah bersikap buruk pada Kazami. “Akulah yang jahat padamu, maafkan aku.” Sesal Yuri.

“Apa yang membawamu ke sini?”

“Aku tidak mengira ekskpresi wajahmu akan jadi seperti itu.”

*flash back

“Aku jadi cemburu karena melihat mereka sedang dimabuk asmara sekarang. Menurutku kau tidak bertanggungjawab, Karena sudah mendekati Mikuri.”

Saat itu ekspresi Kazami amat sangat terluka melihat Tsuzaki dan Mikuri di dalam foto itu tersenyum ceria.

*flash back end

Yuri meminta maaf sekali lagi. “Aku ini angkuh, ya?. Bahkan di usiaku sekarang ini, aku masih tidak tahui perasaan orang lain.”

“Aku juga tidak tahu perasaanku sendiri. Kalau aku terlihat terkejut, mungkin karena aku tidak tahu perasaanku. Bahkan di usiaku yang sekarang, tapi aku masih tak tahu perasaanku sendiri.”

Keduanya sependapat kalau hal seperti itu memang sulit. Mereka lalu menantikan pintu lift terbuka.

*****We Married as Job*****

     Kereta sudah berajalan. Mikuri dan Hiramasa selesai berbulan madu. Disepanjang perjalanan Mikuri dirinya ini kenapa? Apa yang sebenarnya dia harapkan?. Mikuri sedih.

“Aku.. Sebenarnya apa yang aku harapkan?”

Saat Kaoru mengganggu acara sarapan mereka. Sebenarnya Mikuri harap Hiramasa mengatakan sesuatu dan menyelamatkannya. Tapi sayangnya Hiramasa justru pergi.

Dan kalau sekarang Mikuri menggenggam tangan Hiramasa-san,

dalam benak Mikuri yakin Hiramasa marah dan akan menolak dengan sopan. Tetapi jika Mikuri tetap bertahan ingin berpegangan tangan dengan beralasan ini demi pekerjaan dan pura-pura bulan madu pasti wajah Hiramasa akan berubah menyebalkan karena merasa tidak nyaman.

Hiramasa akan menyetujuinya tanpa bisa menolak, Mikuri berhasil mengganggam tangan Hiramasa tetapi itu rasanya tidak akan nyaman bagi Mikuri maupun Hiramasa.

 Bukan sikap kepasrahan seperti itu yang Mikuri harapkan. “Tapi, apa yang ku mau, bukanlah ketidakberdayaannya. Aku.. Apa yang ku harapkan dari Hiramasa-san?”

Mikuri sedih memikirkannya.

     “Walaupun melelahkan. Tapi sangat menyenangkan.”

Hiramasa-san juga sedang memikirkan kejadian bertemu Kaoru mantan pacarnya Mikuri.

“Dia tidak menepati perkataannya. Karena yang aku tahu hanya Mikuri-san seorang. Itulah yang ku tahu. Senyumnya yang lembut, kehangatannya, dan kebaikan hatinya.” Hiramasa mengingat-ingat kembali semua kenangannya bersama Mikuri. Ia bahagia sekali memikirkannya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kalau saja sekarang aku menggenggam tangannya, akan seperti apa ekspresi wajah Mikuri-san?. Jika perjalanan ini selesai, hubungan atasan dan pegawai ini. Hanyalah hubungan berpelukan seminggu sekali. Seperti sebelumnya.” Meski pikirannya mengatakan hal tersebut, akan tetapi hati dan pikirannya tidak sejalan, Hiramasa cemas memikirkannya.

Mikuri pun sama, baginya setelah perjalanan ini berakhir, hubungan mereka akan masih sama seperti sebelumnya.

Seperti sebelumnya baik-baik saja. Aku sudah menyerah. Aku sudah lelah. Aku tak akan melakukan apapun. Aku tidak mengharapkan apapun.” Mikuri sampai menitikkan air matanya, lalu ia menghapusya dengan cepat.

“Setelah perjalanan ini selesai, kembali ke keseharian yang tenang” 

    Dalam hati Mikuri dan Hiramasa sama-sama menghitung, tinggal satu stasiun lagi. Mereka seolah satu-satunya harapan dan kesempatan tidak akan datang kembali pada mereka, rasanya enggan meninggalkan kereta ini,

Selamanya, seharusnya kita tidak datang ke sana.”

    Kereta berhenti. Mikuri dan Hiramasa terdiam di tempat duduk mereka.

“Anda telah sampai di Mishima, Stasiun Mishima.” Pengumuman dari pengeras suara menginformasikan kepada para penumpang. Pintu sudah terbuka, beberapa penumpang lain keluar dari gerbong. “Anda sudah sampai tujuan, terimakasih.”

     Meski berat Mikuri mencoba untuk kuat, dia mengajak Hiramasa turun. Ia menoleh dan tersenyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa “Bisakah kita turun?” Katanya ke Hiramasa.

Mikuri hendak mengambil barang-barangnya, akan tetapi Hiramasa menahan Mikuri, ia menggenggam tangannya. Mikuri tercengang sesaat dan balik menatap Hiramasa. Tanpa Mikuri duga Hiramasa-san mengecup bibirnya.

Mikuri terkejut dibuatnya.

Komentar:

      Kyaaaa….!!!, sensor!. Apakah readers gak puas lihatnya? Don’t worry, itu kayak tabrakan doang kok…, aku yakin readers bisa membayangkannya sendiri.

Yang sudah nonton pasti sudah tahu seperti apa, lucu kan??, unyu dan membuatmu tidak harus menutup mata/memalingkan muka karena baper atau risih?, rasanya seperti akhirnya Hiramasa mengakui perasaannya dan ada inisiatif!, finally yeah!. Di sini yang versi sensor KPI saja (“K”arissa “P”ause bagian “I”ntinya) *apaansih??. Kan sudah kubilang… aku tidak mau yang terlalu gimana-gimana~, yang lain boleh saja berani menampilkan kissue dalam drama apapun di blog, tapi khusus blogku tidak ^^, aku menjaga sopan santun ke-Indonesiaan+Negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia ini dengan tidak melampirkannya ke dalam postingan. Gomenasai’! 😀mikurihiramasa

Sampaikan rasa terimakasih mu setelah membaca sinopsis ini dengan cara Like FP barunya>>>>FANPAGE

 

Advertisements

2 thoughts on “Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 3”

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s