Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 3

       Tsuzaki agak kelelahan, dia berbaring dan Mikuri mengipasinya. Setelah kondisinya agak mendingan Tsuzaki bangun, mempersilahkan Mikuri jika ingin berendam. “Baik,” kata Mikuri.

      Mikuri berendam di bawah langit berbintang sambil memikirkan Hiramasa-san, “Apakah akan baik-baik saja? Tempat di dalam Hiramasa-san. Apakah aku bisa memasukinya?”

Ketika selesai berendam, Mikuri lihat Hiramasa sudah berbaring di kasur. Mikuri menjemur kain putih dulu sebelum ikut berbaring. Kemudian ia kembali ke kamar dan masuk ke selimutnya. Hiramasa merasakan kasurnya beregetar, itu artinya Mikuri sudah bersiap untuk tidur.

      Mikuri mematikan lampunya, melirik ke arah Hiramasa-san sekilas lalu memejamkan matanya mencoba tidur. Hiramasa sangat khawatir jika ia melakukan kesalahan tanpa dia sengaja.

“Tanganku mati rasa. Tapi kalau aku bergerak, akan jadi salah paham dan itu buruk. Ini adalah perjalanan kerja, kalau aku salah pergerakan akan jadi pelecehan seksual. Ini bencana. Bagaimana cara pria di dunia ini agar bisa tidur setempat tidur dengan seorang wanita?. Seharusnya aku mencarinya di google lebih dulu. Situasi seperti ini bukankah sangat tidak normal?”

Berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan. Mikuri di sampingnya hendak menyentuh Hiramasa, ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati, dalam jarak beberapa cm saja Mikuri hampir bisa menyentuh punggungnya, akan tetapi diwaktu yang sama Hiramasa bergerak. Mikuri pura-pura tidur, memejamkan matanya.

    Hiramasa tidak bisa tidur, dia menoleh ke kiri melihat Mikuri yang terpejam. Mikuri yang pura-pura tidur sepertinya mengharapkan sesuatu, tapi nyatanya Hiramasa malah pindah tidur di bawah.

Menyumpal telinganya dan menutup matanya, berbaring di lantai. Mikuri mengamatinya, lalu berbaring lagi dengan kecewa.

     Pagi harinya, Tsuzaki Hiramasa senang sekali karena tindakannya menutup mata dan telinga berhasil membuatnya tidak menyadari kehadiran Mikuri. Hiramasa semalam tidur dengan nyenyak. Aku berhasil menjadi jomblo profesional!.

      Mikuri di dalam kamar mandi, dia amat sangat kecewa pada dirinya sendiri. Ia menuliskan uneg-unegnya ke cermin yang berembun [Pakaian dalam baru, tidak ada gunanya, sebuah pagi di musim gugur.]. ”Apa yang sudah diriku sendiri lakukan?

Kalau dipikirkan kembali selama ini hanya Mikuri yang berinisiatif, ayo menikah! Mari berpacaran! Mari pelukan!. Semua itu adalah inisiatifnya Mikuri sendiri, ia pikir Hiramasa-san tidak menolak karena Hiramasa-san adalah orang yang baik. Mikuri sudah lelah seperti ini.

Dengan kasar ia menghapus tulisan di cermin.

     Mikuri dan Hiramasa sarapan. Kalau biasanya Mikuri yang mengajak bicara duluan, kali ini Hiramasa yang mulai duluan. “Sarapannya enak, ya?”

“Lumayan lah.” Kata Mikuri ketus.

“Lumayan? Jadi begitu ya?” Hiramasa bingung dengan jawaban Mikuri.

      Tiba-tiba seseorang memanggil Mikuri “Moriyama?” ketika Kaoru sudah yakin ia langsung sok akrab “Moriyama-chan!” Tsuzaki agak terkejut dan Mikuri malas bertemu Kaoru disaat suasana hatinya sedang jelek seperti ini.

Kaoru langsung mendekati Mikuri dan mencoleknya, kenapa Moriyama-chan  bisa ada di sini?, Kaoru terkejut melihat Hiramasa dan segera memberinya salam. Mikuri dengan tidak nyaman memperkenalkan Kaoru adalah teman sekelasnya di SMA.

Dengan pedenya Kaoru malah bilang “Aku mantan pacarnya Moriyama!”

Mikuri sebal dengarnya, apa perlu Kaoru mengatakan hal semacam itu?. Kaoru juga membeberkan informasi tanpa diminta “Menurutku dia sangat menyebalkan. Dia cerewet sekali. Yah, tapi dia bukan orang jahat sih. Mikuri memandang Hiramasa, ia harap Hiramasa menyelamatkannya dalam situasi tidak menyenangkan ini.

Kaoru mulai berceloteh tentang kenangan mereka, dulu saat pergi ke kafe Shibuya, di depan toko Mikuri menceramahi Kaoru.

    Mikuri tidak tahan, dia berdiri “Itu karena kau tak seharusnya bicara hal yang tidak penting. Kenapa di tempat seperti itu..”

Tidak sesuai harapan Mikuri, Hiramasa justru izin pergi dan mempersilahkan Mikuri mengobrol dengan Kaoru.

    Hiramasa-san pergi, Kaoru dan yang lain memperhatikan kepergiannya. Pasangannya Kaoru pikir apa pasangannya Mikuri marah?, Kaoru menduga seleranya Mikuri terhadap pria sudah berubah sekarang. Mikuri dengan lemah mengatakan bahwa seleranya terhadap pria tidak berubah.

“Apa?” Kaoru tidak mengerti.

“Aku baru menyadarinya.” Mikuri terduduk lemas,

Hiramasa-san pergi menjauh.

     Yuri berangkat kerja, ia mendekati Kazami yang berjalan lebih cepat.”Selamat pagi!” sapa Yuri

“Selamat pagi!”

Yuri mengungkit semalam, ia rasa dirinya telah bersikap buruk pada Kazami. “Akulah yang jahat padamu, maafkan aku.” Sesal Yuri.

“Apa yang membawamu ke sini?”

“Aku tidak mengira ekskpresi wajahmu akan jadi seperti itu.”

*flash back

“Aku jadi cemburu karena melihat mereka sedang dimabuk asmara sekarang. Menurutku kau tidak bertanggungjawab, Karena sudah mendekati Mikuri.”

Saat itu ekspresi Kazami amat sangat terluka melihat Tsuzaki dan Mikuri di dalam foto itu tersenyum ceria.

*flash back end

Yuri meminta maaf sekali lagi. “Aku ini angkuh, ya?. Bahkan di usiaku sekarang ini, aku masih tidak tahui perasaan orang lain.”

“Aku juga tidak tahu perasaanku sendiri. Kalau aku terlihat terkejut, mungkin karena aku tidak tahu perasaanku. Bahkan di usiaku yang sekarang, tapi aku masih tak tahu perasaanku sendiri.”

Keduanya sependapat kalau hal seperti itu memang sulit. Mereka lalu menantikan pintu lift terbuka.

*****We Married as Job*****

     Kereta sudah berajalan. Mikuri dan Hiramasa selesai berbulan madu. Disepanjang perjalanan Mikuri dirinya ini kenapa? Apa yang sebenarnya dia harapkan?. Mikuri sedih.

“Aku.. Sebenarnya apa yang aku harapkan?”

Saat Kaoru mengganggu acara sarapan mereka. Sebenarnya Mikuri harap Hiramasa mengatakan sesuatu dan menyelamatkannya. Tapi sayangnya Hiramasa justru pergi.

Dan kalau sekarang Mikuri menggenggam tangan Hiramasa-san,

dalam benak Mikuri yakin Hiramasa marah dan akan menolak dengan sopan. Tetapi jika Mikuri tetap bertahan ingin berpegangan tangan dengan beralasan ini demi pekerjaan dan pura-pura bulan madu pasti wajah Hiramasa akan berubah menyebalkan karena merasa tidak nyaman.

Hiramasa akan menyetujuinya tanpa bisa menolak, Mikuri berhasil mengganggam tangan Hiramasa tetapi itu rasanya tidak akan nyaman bagi Mikuri maupun Hiramasa.

 Bukan sikap kepasrahan seperti itu yang Mikuri harapkan. “Tapi, apa yang ku mau, bukanlah ketidakberdayaannya. Aku.. Apa yang ku harapkan dari Hiramasa-san?”

Mikuri sedih memikirkannya.

     “Walaupun melelahkan. Tapi sangat menyenangkan.”

Hiramasa-san juga sedang memikirkan kejadian bertemu Kaoru mantan pacarnya Mikuri.

“Dia tidak menepati perkataannya. Karena yang aku tahu hanya Mikuri-san seorang. Itulah yang ku tahu. Senyumnya yang lembut, kehangatannya, dan kebaikan hatinya.” Hiramasa mengingat-ingat kembali semua kenangannya bersama Mikuri. Ia bahagia sekali memikirkannya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kalau saja sekarang aku menggenggam tangannya, akan seperti apa ekspresi wajah Mikuri-san?. Jika perjalanan ini selesai, hubungan atasan dan pegawai ini. Hanyalah hubungan berpelukan seminggu sekali. Seperti sebelumnya.” Meski pikirannya mengatakan hal tersebut, akan tetapi hati dan pikirannya tidak sejalan, Hiramasa cemas memikirkannya.

Mikuri pun sama, baginya setelah perjalanan ini berakhir, hubungan mereka akan masih sama seperti sebelumnya.

Seperti sebelumnya baik-baik saja. Aku sudah menyerah. Aku sudah lelah. Aku tak akan melakukan apapun. Aku tidak mengharapkan apapun.” Mikuri sampai menitikkan air matanya, lalu ia menghapusya dengan cepat.

“Setelah perjalanan ini selesai, kembali ke keseharian yang tenang” 

    Dalam hati Mikuri dan Hiramasa sama-sama menghitung, tinggal satu stasiun lagi. Mereka seolah satu-satunya harapan dan kesempatan tidak akan datang kembali pada mereka, rasanya enggan meninggalkan kereta ini,

Selamanya, seharusnya kita tidak datang ke sana.”

    Kereta berhenti. Mikuri dan Hiramasa terdiam di tempat duduk mereka.

“Anda telah sampai di Mishima, Stasiun Mishima.” Pengumuman dari pengeras suara menginformasikan kepada para penumpang. Pintu sudah terbuka, beberapa penumpang lain keluar dari gerbong. “Anda sudah sampai tujuan, terimakasih.”

     Meski berat Mikuri mencoba untuk kuat, dia mengajak Hiramasa turun. Ia menoleh dan tersenyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa “Bisakah kita turun?” Katanya ke Hiramasa.

Mikuri hendak mengambil barang-barangnya, akan tetapi Hiramasa menahan Mikuri, ia menggenggam tangannya. Mikuri tercengang sesaat dan balik menatap Hiramasa. Tanpa Mikuri duga Hiramasa-san mengecup bibirnya.

Mikuri terkejut dibuatnya.

Komentar:

      Kyaaaa….!!!, sensor!. Apakah readers gak puas lihatnya? Don’t worry, itu kayak tabrakan doang kok…, aku yakin readers bisa membayangkannya sendiri.

Yang sudah nonton pasti sudah tahu seperti apa, lucu kan??, unyu dan membuatmu tidak harus menutup mata/memalingkan muka karena baper atau risih?, rasanya seperti akhirnya Hiramasa mengakui perasaannya dan ada inisiatif!, finally yeah!. Di sini yang versi sensor KPI saja (“K”arissa “P”ause bagian “I”ntinya) *apaansih??. Kan sudah kubilang… aku tidak mau yang terlalu gimana-gimana~, yang lain boleh saja berani menampilkan kissue dalam drama apapun di blog, tapi khusus blogku tidak ^^, aku menjaga sopan santun ke-Indonesiaan+Negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia ini dengan tidak melampirkannya ke dalam postingan. Gomenasai’! 😀mikurihiramasa

Sampaikan rasa terimakasih mu setelah membaca sinopsis ini dengan cara Like FP barunya>>>>FANPAGE

 

Advertisements

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 2

     Tsuzaki Hiramasa meminta Mikuri dan dirinya menjadikan ini sebagai pengalaman. Karena salah memesan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mikuri mengiyakannya. Keduanya kemudian mencobanya, “Ini pahit~” kata keduanya bersamaan.

Meskipun itu hanya khayalan Mikuri, itu sangat menenangkan baginya.

Khayalan Mikuri buyar setelah dipanggil oleh Hiramasa-san. Hiramasa mengajak Mikuri kembali ke kamar. Namun ketika mereka berjalan, Mikuri mendengar suara yang tidak asing, baru benar yakin tidak asing saat tahu ternyata itu memang Kaoru mantan pacarnya. Kaoru bersama pasangannya mengkomplain sesuatu, pasangan Kaoru meminta Kaoru jangan terlalu mempermasalahkan dan sedangkan Kaoru nampaknya tidak perduli, menurut Kaoru kepiting lebih baik daripada ikan. Tapi pasangan Kaoru bilang tidak suka dengan keduanya.

     Mikuri bersembunyi setelah tahu itu memang Kaoru. Si petugas penginapan mengatakan kalau makan malam hanya bisa disiapkan setelah tamu memesannya terlebih dahulu. Kaoru memohon, tidak bisakah makanan disediakan untuk dua porsi saja khusus untuk Kaoru dan pasangannya?. Pasangan Kaoru merajuk, tapi kan ia tidak suka dua jenis hidangan itu!

Mikuri mengamati mereka. Tsuzaki membisiki Mikuri “yang seperti itu pasti klaimer, kan?” orang yang suka komplain tanpa alasan.  “Maaf,” tiba-tiba Mikuri meminta maaf dan membuat Tsuzaki bingung.

Kaoru dan pasangannya masih ribut sendiri, “Hokkaido? Ternyata dari Hokkaido.”

Mikuri mengajak Tsuzaki kembali ke kamar. Setelah agak jauh Tsuzaki mengutarakan pemikirannya, ia tidak mengerti pada pria tadi yang bersikap seperti itu padahal sedang bersama pasangannya. Tsuzaki meragukan rasa kemanusiaan pria tadi.

Dengan canggung Mikuri hanya membenarkan pemikiran Tsuzaki. Dan dalam hati Mikuri bertanya-tanya kenapa dulu bisa berpacaran dengan Kaoru?.

      Sebelum festival sekolah, di sekeliling Mikuri banyak sekali yang menjadi pasangan dan itu tak terjadi satu dua pasangan saja. Pada saat itu Kaoru ingin menjadi pacar Mikuri, Kaoru keren dan bukanlah orang yang jahat. Jadi Mikuri pikir saat itu tidak apa-apa.

Baru beberapa detik Mikuri menerima perasaan Kaoru, Kaoru sudah heboh sendiri, berteriak mustahil!!!, melompat-lombat kesetanan seperti orang gila. Tapi berjalannya waktu pun Mikuri menemukan banyak sekali ketidakcocokan diantara ia dan Kaoru.

      Kejadian di kafe yang salah pesan, Kaoru merubah gaya rambutnya dan Mikuri tidak menyukainya. Ketika Kaoru menabrak orang saat berjalan ia pun tidak minta maaf, Mikuri marah padanya dan menyuruhnya meminta maaf karena sudah menabrak duluan.

Jawaban Kaoru justru membuat Mikuri kesal, katanya bahkan bersama Mikuri ia tidak merasa menyenangkan. Begitulah Mikuri dicampakkan.

     Mikuri memikirkan masa-masanya bersama Kaoru dulu. Sementara itu Tsuzaki dirinya mulai menyesali ucapannya saat berjalan dengan Mikuri tadi tentang keraguannya terhadap pria asing di lobi, Tsuzaki pikir ucapannya tadi hanyalah bentuk kecemburuan dari seorang pria yang tidak laku sepertinya ini.

Tsuzaki resah karena salah bicara, ia lalu menggeledah tasnya. Menurut Tsuzaki.. siapapun pasangan yang dipilih itu merupakan hak masing-masing orang,

Hiramasa mengambil bungkusan dari Hino. Emoticon senyum ada di baliknya. Mikuri memanggilnya dan membuat Hiramasa belum sempat membuka bungkusannya. Mikuri mengajak Hiramasa-san untuk berfoto bersama mengenakan yukata, mengirimkan foto kemesraan tersebut ke Yuri-chan.

Ketika Hiramasa membuka bungkusannya, ia terkejut sendiri. Sebelum Mikuri melihatnya, Hirasama buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Mikuri melihat gelagat aneh dari Hiramasa, apa yang ada di dalam tas?.

“Tidak, bukan apa-apa.” Jawab Hiramasa mencoba memang tidak ada apa-apa.

“Apa kau membawa kucing peliharaanmu?”

“Aku tidak punya kucing, kan?”

Mikuri tersenyum, dia tadi cuman bercanda. Kamar ini mulai panas, Mikuri akan membeli sesuatu yang dingin. Mikuri pergi, Hiramasa kini leluasa melihat barang pemberiannya Hino.

OBAT KUAT: EKSTRAK KOBRA (ahahahahahahaha….. bgm dan zoom in-nya ke wajah kobra sukses membuatku ketawa XD , cling! tuing! Tuing! Sssshh! Sssshh!  Sssshhh…!!!)

     Hiramasa menelfon Hino untuk mempertanyakan kenapa dikasih obat kuat?. Hino mengatakan dirinya memberikan itu karena Tsuzaki sebelumnya bilang khawatir soal malam harinya. Hiramasa membenarkannya memang khawatir, tapi khawatir untuk hal semacam itu!. Hiramasa pikir Hino akan memberinya perlengkapan tidur atau sesuatu yang memiliki efek relaksasi.

Hino tidak ambil pusing suara cemasnya Tsuzaki, “Karena barang itu sangat mahal, jangan disia-siakan ya.. Ciao!”

“Ciao?” Hiramasa masih belum kelar bicara tapi Hino main putus-putus saja.

Kembali lagi dilema, Hiramasa kesal karena Hino bahkan memberikannya 3 obat kuat!. Mikuri nampaknya sudah sampai, bayangannya terlihat dari kamar. Hiramasa kebingungan menyembunyikan obat kuat pemberiannya Hino. Pilihannya jatuh ke bawah kasur, ketika Mikuri masuk ia hanya melihat Hiramasa yang sedang merapikan kasur.

     Mikuri mendekatinya Tsuzaki dan menawarkan mau air putih atau ocha? (ocha: teh). Dan karena masih terkena efeknya Hino yang ciao ciao tadi… ia reflek mengatakan “Chaoo!” (ahahahhaa… cling! Ssshhh… ssshhh! ssssSSSHH! Desisan ular)

“Aku mau ocha!”

Mikuri memberikan tehnya ke Hiramasa.  Karena akhirnya mereka dapet double bedroom… Mikuri meminta Hiramasa untuk menganggap jika tidur bersama nanti seperti tidur beramai-ramai. Mikuri pikir tidak masalah, ia menyamakannya seperti duduk bersama di sofa.

Mikuri coba duduk di kasur, pernya bagus. Mikuri rasa kalau ada gerakan tidak sengaja mereka, keduanya tidak akan begitu terganggu.

    Mikuri berbaring di kasur. Itu membuat Tsuzaki syok setengah mati, jangan sampai ketahuan~. Mikuri rasa ada yang mengganjal di bawah kasur, ia hendak melihat apa itu. Tsuzaki bilang jangan!, ada ular di situ.. eh.. ada serangga di situ. Mikuri otomatis mundur “Serangganya besar?”

Tsuzaki bilang karena serangganya cukup besar lebih baik Mikuri tidak usah melihatnya. Mikuri berinisiatif memanggil Nakai-san, petugas yang mengantarkan mereka tadi untuk mengecek serangganya.

     Tapi Tsuzaki berusaha mencegah Mikuri, itu bukanlah masalah besar kok!. Tapi Mikuri ngeyel, itu kan serangga. Tsuzaki kehabisan alasan “Yah.. itu serangga.”

Mikuri kekeuh kalau itu adalah keluhan yang sah, bukan keluhan yang mengada-ada. Jadi ia berhak komplain. Mikuri mulai menelfon, Tsuzaki Hiramasa mengambil kesempatan untuk mengambil ularnya eh… obat kuatnya Hino dan menaruhnya ke tempat lain.

Dengan sigapnya ia meluncur dan melemparkan obat kuat ekstrak kobra itu ke bawah meja. Lalu berjalan santai kembali ke tempat berdiri semula. Oh! Jangan lupa rapikan kasurnya kembali. (kkkkkk)

Tsuzaki berakting serangganya sudah pergi. Mikuri bertanya di mana sekarang?. Tsuzaki menunjuk kaki Mikuri, itu ada di kakimu, Mikuri-san.

Mikuri yang takut langsung mundur dan oleng jatuh. Tsuzaki langsung berlari dan menopang Mikuri jangan sampai langsung membentur bawah, sayangnya Hiramasa justru terpeleset sendiri. “Aduh!”

    (dan ta-da~ just see it by yourself. How can I explaine this moment?, awkward moment? Or cutest one? Haha!)

Setelah bertatapan lama Hiramasa segera menghindar dan panik, “Aku tidak sengaja!”

“Aku mengerti, tidak apa-apa.”

“Ini pelecehan seksual!”

“Tidak apa-apa, ini kecelakaan. Semuanya aman” SAFE!

Dalam hati Hiramasa pikir ini berbahaya, padahal belum sampi 2 jam waktu berlalu sejak mereka ada di sini. Tujuannya kemari hanyalah menjalankan misi perjanan kerja saja. Apakah akan bisa selesai dengan aman?.

Keringat Hiramasa banyak sekali. Mikuri juga menyadari hal tersebut, Mikuri heran kenapa dia juga bisa berkeringat banyak begini?.

“Panas sekali!” kata keduanya.

    Akhirnya Mikuri dan Hiramasa pindah ke kamar lainnya. Nakai-san meminta maaf karena ACnya memang aneh akhir-akhir ini, ia mengantarkan Hiramasa dan Mikuri ke kamar baru. Sebuah kamar dengan double bedroom, pemandian air panas terbuka, dan harganya tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya dipesan.

Nakai-san pergi. Mikuri memuji mereka dapat kamar yang bagus. Tidak tidak tidak, menurut Tsuzaki kamar ini tidak bagus. Ia menunjuk pemandangan dari kamar yang terlalu berlebihan kalau hanya untuk perjalanan kerja.

Mikuri bilang, tapi kan tidak ada kamar yang kosong lagi?. Tsuzaki kalau begitu ingin pergi ke pemandian umum di bawah saja. Mikuri meletakkan tasnya dan menjelaskan kalau pintu gesernya ditutup maka ini seperti kamar biasa. Mungkin kamar ini tarifnya lebih dari 100.000 yen. Karena jarang-jarang bisa menikmati kamar seperti ini, ayo kita nikmati saja dengan sepenuh hati.

“Ini perjalanan kerja.” Ucap Tsuzaki masih cemas.

“Ya, ini perjalanan kerja.”

     Nakai-san mengetuk pintu kamar, ia memberitahukan kalau ada barang tertinggal dari kamar sebelumnya. Mikuri yang menyambutnya di pintu. Untungnya Hiramasa ingat apa yang ketinggalan, ektrak kobranya tadi ia lemparkan ke bawah meja.ia syok, jangan sampai Mikuri tahu!

Nakai-san yang pengertian tidak menyerahkan barang tersebut ke Mikuri. Mikuri dilewati begitu saja. Nakai memberikannya ke Tsuzaki Hiramasa, ia memandang Tsuzaki penuh arti “Permisi.”

Selepasnya Naka-san pergi, Hiramasa memuji Nakai-san habis-habisan. Kenapa ada pegawai sehebat dan seperhatian itu?, dia hebat sekali!. Mikuri pikir itu biasa saja karena memang sudah tugasnya Nakai-san.

“Memangnya apa itu?” Mikuri penasaran dan mendekati Hiramasa.

Tsuzaki berjalan menjauh sambil menyembunyikan bungkusannya. “Itu tidak ada hubungannya denganmu, Mikuri-san.”

Mikuri lalu mengatakan, karena kita sudah jauh-jauh kemari kenapa tidak coba berendam saja?. Dengar kata-kata Mikuri membuat Tsuzaki kaget dan melepaskan ekstrak kobranya sampai bungkusannya terlepas. Tsuzaki melompat melindungi jangan sampai Mikuri melihatnya “Ah, jangan lihat!”

Tsuzaki tahu Mikuri pasti bercanda lagi, ia mohon pada Mikuri jangan bicara seperti itu seenaknya sendiri. Hubungan kita hanya sebatas hubungan pekerjaan. Juga masalah berpelukan setiap hari selasa, dan sekarang pun ini hanya perjalanan kerja. Tidak lebih atau kurang dari itu.

Tsuzaki mengambil tasnya dan menggerutu sendiri sambil memasukkan ekstrak kobra ke dalam tas. Demi Tuhan…, Mikuri-san biasanya kau langsung melakukan hal yang gila.

Mikuri keluar dari kamar. Ia pikir Hiramasa marah padanya, sepertinya karena kepandaiannya ini ia selalu dicampakkan oleh pacarnya. Mikuri menuju ke snack dan makanan lainnya. Ia tanpa sengaja lihat Kaouru dan pasangannya. Ia bersembunyi, kenapa beta-beta couple itu selalu ada di sekitaran Mikuri?, (beta-beta couple: padangan yang nempel mulu)

Mikuri iri sekali pada kemesraan keduanya. Mikuri menggelengkan kepalanya, ia adalah pekerjaan kerja. Untuk berterima kasih atas hadiahnya Yuri-chan.

    Umehera Natsuki mendekati Yuri untuk memperlihatkan gambarnya, haruskah diperbaiki dan diperjelas warnanya agar tidak kelihatan seperti bohongan?. Yuri bilang tidak apa-apa, biarkan saja tetap alami. Sebelum pergi Umehara meletakkan notes ke meja Yuri []

Sekarang Horiuchi yang mendekat, ia bertanya apakah dokumen rapat kemarin mau memeriksam dokumen dari rapat kemarin?. Yuri sudah menendainya dengan tanda merah, ia akan memperbaikinya sendiri karena sudah tidak ada waktu dan besok ada rapat. Horiuchi awalnya kaget, tapi ia berterima kasih.

Umehara juga memperhatikan mereka. Umehara bilang seharusnya Horiuchi mengatakan akan memperbaikinya. Horiuchi dengan raut muka sedih mengakui jika ia sendiri yang memperbaikinya maka akan makan waktu lama.

Di bar, Yuri bercerita pada akhirnya dialah yang memperbaiki dokumennya sendiri. Karena itu pekerjaan dan tidak ada pilihan lain.

“Tidak ada pilihan lain, setengah pekerjaan itu harus kau lakukan.” Kata Numata,

“Lalu setengah sisanya?” tanya Yuri.

“Aku mau pulang,”

“ini bukan Yazuki zero” (yazuki zero: tidak ada motivasi)

Keduanya lalu tertawa. Menurut Numata, tapi kalau hanya bekerja sendiri.. ini bukanlah hidup. Bekerja secukupnya tapi akhirnya berkembang itu bagus, kan?.

“Itu juga suatu kenyataan lain, kan?”

“Yuri-san, kau melakukan pekerjaan yang kau inginkan, kan?”

“Yah, tapi ku akui belakangan ini. Waktu dan usaha yang aku sendiri lakukan, Seperti tidak sesuai dengan keuntungan. Perasaan itulah yang ku tunjukkan.”

“Kalau kau bilang keuntungan, kau tak bisa bilang apa-apa.”

“ Itu benar, kan?”

“Manusia memang menyedihkan, ya?. Kitalah makhluk hidup yang berharap akan dapat imbalan. Terutama dalam hubungan cinta.” Kata Master Yama-san sebelum menenggak minumannya. Yuri mengingatkan kalau Yuri tadi sedang membicarakan masalah pekerjaan.

“Hei.. hei hei” Numata mengingatkan Yuri. Master Yama-san dalam mode merenung sekarang, ingin curhat dan wisdom mode on. (sahabat-sahabatku yang super…)

“Jika seseorang tak mendapatkan balasan perhatian dari lawannya. Orang lain pasti penasaran. Bahkan jika mereka tak mendapatkan perhatian, kadang jika mereka mendapatkan imbalan yang setimpal, mereka akan menerimanya. Entah dalam bentuk uang atau kehidupan yang layak.”

Yuri mendengarkannya. Master Yama-san terus melanjutkan kata-katanya “Tapi kau tahu, jika perasaaannya lebih dalam mungkin mereka tak kan bisa menahannya. Entah hanya untuk aku (lk) atau hanya untuk aku (pr). Kekhawatiran akan terus menumpuk. Lalu hubungan itu akan berakhir.”

Master Yama-san melepaskan kaca matanya dan menangis, Numata juga ikut-ikutan sedih. Yuri satu-satunya yang bingung di sana.

“Kalian tidak boleh terpengaruh, lah!” kata Yuri sambil menepuk pundak Numata. (kalau kata gw sih bahasa gaulnya gini, kalian gak usah pada baper lah!, wkwkwkwk)

      Mikuri dan Hiramasa makan malam bersama, suasananya canggung. Mikuri mencoba membangun percakapan dengan berkata makanannya enak ya?. Tsuzaki membenarkannya, oh! Terbuat dari apa ini?. Tunjuknya makanan yang tersaji. Mikuri bilang itu dari salmon.

Tsuzaki berkomentar makanan di sini pasti disiapkan dengan rumit. Mikuri meminta maaf karena selama ini hanya bisa memasakkan Tsuzaki dengan masakan rendahan. Tsuzaki pikir apa itu makanan memang rendahan?. Mikuri menanggapi, dirinya tidak yakin yang mana saja sih.. tapi ia memasakan Tsuzaki dengan menu-menu yang efisien, tidak banyak makan waktu.

Tsuzaki bilang kalau dalam hidup ini yang diperlukan adalah yang efisien, kalau dia menuntut makanan bercita rasa restoran dengan waktu terbatas, itu pun akan memboroskan uang pula. Ia tidak keberatan makan makanan yang mewah dan rumit proses memasaknya seperti yang di depan matanya sekarang ini sekali-kali, “Masakan apapun yang dibuat Mikuri-san, aku akan sangat menyukainya.”

Mikuri tersentuh dengan ucapan sederhana dari Hiramasa.

“Kinmedai ini luar biasa, yah?” komentar Tsuzaki pada makanannya.

Mikuri akhirnya menyadari, tadi mungkin ia hanya terkejut sedikit. Merasa galau karena dipikirnya Hiramasa-san marah padanya tadi, dan hanya oleh kata-kata Hiramasa yang sederhana barusan… lenyap sudah kegundahan dan kesedihannya, lenyap seperti sebuah kebohongan.

    Mikuri mengirimkan ucapan terima kasih ke Yuri-chan. Di bar dia sungguh terharu dengan ucapan terima kasih Mikuri yang terlihat senang memakan kinmedainya. Numata memuji Yuri-san telah berusaha keras demi Mikuri dan Tsuzaki, Yuri balas mengatakan “Numa-chan juga, sampai sekarang kuharap kau baik-baik saja.”

Mood Yuri rusak saat Kazami datang dan bertanya ada apa sebenarnya ini. Yuri hendak pergi, Kazami akan mengalah jika Yuri masih ingin di sini. Tapi Yuri tetap ingin pergi karena besok haru bangun pagi untuk kerja.

Oh iya, Hiramasa dan Mikuri menikmati bulan madu mereka. Kazami yang mendengar itu ia pikir Yuri-san sedang bercanda. Yuri menunjukkan buktinya, foto dua keponakannya itu yang terlihat mesra [Terima kasih Yuri-chan, kami sangat menikmatinya]. Yuri sampai iri melihat keduanya sedang dimabuk asmara.

    Tsuzaki sedang berendam, ia sekarang percaya dengan kata-kata Yuri-san sebelumnya. “Kau benar, Yuri sensei. Walau pernikahan kontrak dan pelukan di hari selasa memang tidak jelas. Tapi aku sadar saat aku menjalaninya, ini bukan hal yang buruk. Sebenarnya, aku bahkan berpikir ini sangat ideal.”

Baru saja tenang, Hiramasa ingat candaan Mikuri yang mengajak berendam bersama tadi. Beneran deh Mikuri-san!, keterlaluan! (wkwkwk) Hiramasa yang jengkel langsung menenggelamkan dirinya ke dalam air.

“Sudah bagus aku ini jomblo profesional. Bagaimana kalau aku adalah pria biasa? Apa yang akan kau lakukan? Kau adalah orang yang menyulitkan, Mikuri-san.”

­~We Married as Job~

     Mikuri melihat obat kuat ekstrak “KOBRA”. Ia cukup tercengang kenapa Hiramasa-san membawa yang seperti ini. (cling! Cling!, Sssshhh… Sssshhh! SSssHHH!! Wkwkwkw)

Mikuri segera membungkusnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas Hiramasa. Tadi ia tidak sengaja menendang tasnya dan sesuatu keluar dari dalamnya, Mikuri melihat sesuatu yang menakjubkan. Mikuri kemudian beralih ke tasnya, ia pikir Hiramasa-san tidak memiliki keberanian seperti itu. Jadi Mikuri tidak menyiapkan apapun. Apa yang akan Hiramasa-san lakukan, Mikuri sungguh tidak tahu.

Akan tetapi Mikuri sudah menyiapkan sesuatu yang tidak ia khawatirkan sebelumnya. Mikuri sudah membeli pakaian dalam saran dari Yassan. Apakah ini ada gunanya?. Tsuzaki sudah selesai mandi, Mikuri gugup dibuatnya.

     Tapi Tsuzaki berjalan tertatih-tatih, sepertinya dia meriang karena telalu lama berendam dalam air.

Komentar:

       cling! Cling!, Sssshhh… Sssshhh! SSssHHH!! Wkwkwkw, aku tiap denger  itu pasti ketawa sendiri dan pertama kali lihatnya aku ketawa sampai perutku sakit, saat membuat ini aku masih bisa tertawa lhoo, apalagi tampang kobranya yang mangap tak berdosa XD . Hino pas ngomong ciao itu lucu juga, sok sok cuek, kupikir akan lucu kalau balik honeymoon dia nagih cerita ke Hiramasa, temen yg kurang ajar! >_<. Kalian pasti tahu dong ciao itu bahasa Italia, “ciao” itu seperti “bye!/hai” Dalam bahasa inggris.

dance

Sampaikan rasa terimakasih mu setelah membaca sinopsis ini dengan cara Like FP barunya>>>>FANPAGE