Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 1

     Hari selasa pagi waktunya membuang sampah daur ulang, pukul 8 pagi akan diangkut oleh petugasnya. Mikuri tersenyum melihat stiker penanda pukul 8 sampah daur ulang akan diambil. Mikuri pagi hari seperti biasanya membuatkan bekal makanan untuk Hiramasa dan menyiapkan sarapan.

    Mikuri menyapa Hiramasa yang baru keluar kamar dengan piyamanya. Sebelum Hiramasa keluar kamar dengan baju kerjanya, Mikuri setiap pagi bisa melihat Hiramasa berkeliaran dengan piyama. Mikuri menata makanan di meja, Hiramasa ada di kamar mandi.

 Mikuri sedikit mengintipnya yang sedang cuci muka, rasanya menyenangkan seperti berhasil menjinakkan kapibara liar (kapibara ?, bisa kasih tahu aku beli di mana hewan yg unyu antara kyk kelinci/marmut/tikus itu ? *LOL)

Menggemaskan sekali bagi Mikuri, ia sangat ingin mengelusnya (kapibaranya ?, eh… Hiramasanya ? XD). Meskipun sangat ingin mengelusnya, Mikuri yakin Hiramasa pasti akan kabur. Ketika Hiramasa menoleh Mikuri sudah pergi.

Hiramasa keluar dari rumah, bertegur sapa dengan salah seorang tetangga. Lalu  ia berhenti sebentar melihat stiker penanda Selasa pukul 8 sampah daur ulang akan diangkut, Hiramasa tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

 Setelah mengantarkan Hiramasa bekerja Mikuri melakukan tugasnya, mencuci piring dan baju, bersih-bersih rumah. Sebagai tambahan Mikuri juga bersih-bersih dalam seminggu. Pergi ke dokter gigi di jam makan siang, lalu pergi belanja. Setelah pulang ke rumah ia mengangkat jemuran. Kemudian menyetrika dan membuat makan malam.

     Setelah makan malam ia mencuci piring, menyortir jenis sampah yang akan dibuang besok. Mendapatkan upah dari pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaannya Mikuri. Mikuri melihat Hiramasa menonton TV, lalu ia membuatkan teh untuk diminum bersama.

Hiramasa meminta maaf karena Mikuri harus repot-repot meladeninya di luar jam kerja. Mikuri bilang tidak apa-apa, lagipula dia ingin minum teh.

Mikuri mengingatkan hari ini hari selasa, waktunya pelukan. Hiramasa ingat mereka sudah pelukan di hari lainnya. Mikuri tadi memang sengaja meminta pelukan siapa tahu Hiramasa lupa. Hiramasa tentunya tidak akan lupa.

Lalu Mikuri menawar bagaimana kalau peluk di muka lagi ?. Hiramasa tidak setuju, tolong jangan bicara seperti perusahaan yang terlilit hutang.

Mikuri tertawa mendengarnya, ia hanya bercanda. Hanya mengingatkan kalau ini hari selasa.

    Hiramasa lalu menggeser duduknya, kemudian memandang Mikuri “di bawah terlalu dingin”. Mikuri tersentuh “Terima kasih banyak,”

Mikuri pindah duduk di sebelahnya Hiramasa, mereka menyesap teh mereka secara bersamaan sambil menonton acara televisi. Dalam hati Mikuri bertanya-tanya, ketenangan macam apa ini ?.

-=+-*+Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu||We Married As Job *+-+=-

      Yuri sedang konsultasi. “Pelecehan seksual ?” tanyanya bingung ke wanita. Yuri tidak ingat pernah mengalami kejadian tersebut. Wanita tersebut menjelaskan bukan Tsuchiya yang mejadi korbannya, tapi Tsuchiya lah yang menjadi pelakunya. Pada Rabu lalu Tsuchiya melakukannya pada Umehara Natsuki.

“Kau menyebut dia pria ganteng”

Ingatan Yuri ketika menyebut Umehara ganteng langsung terlintas dibenaknya Yuri. Umehara ganteng, tapi Yuri tidak merasa terganggu dengan kehadiran Umehera, apa ini karena Umehara adalah bawahannya?.

Yuri mengelak bukan begitu kejadiannya. Tidak ada indikasi pelecehan di kata-katanya. Lalu si rekannya menyatakan kesaksian dari seseorang yang melihat tindakan Yuri di hari rabu tersebut.

Diganti!!!, “Hei, Umehara-kun. Kau juga pria ganteng, kan?.”

Umehara terlongo-longo mendengar kata-kata Yuri. Yuri menambahkan “Tapi anehnya, aku ingin sekali memeliharamu.” Yuri sambil berjalan “Kenapa ini ?, mungkin karena aku cinta padanya.”

Yuri pikir kata-katanya yang diedit orang itu aneh sekali. Aneh sekali!, di tengah-tengah kalimatnya diganti. Si wanita itu juga setuju dengan Yuri, ia sudah menduga Tsuchiya tidak mungkin melupakan detail ucapannya sendiri. Yuri lalu berusaha melihat siapa orang yang menfitnahnya.

Rekannya menyembunyikan kertasnya, ini rahasia!. Rekan wanitanya lalu berkata, setelah menikah dan melahirkan anak, karirnya serta mengasuhnya maka karir akan selesai. Tapi bagi semua orang itu adalah bintang harapan. Tsuchiya jangan sampai tersandung hal-hal sepele seperti salah berbicara, mulai sekarang Tsuchiya diharapkan menjaga bicaranya.

 “Apakah kau tahu manager kita? Dia cerita tentang gadis bawahanmu.”

“Horiuchi-san ?”

“Selama ini dia mengira kau membuli gadis itu”

     Yuri sudah ada di rumahnya Hiramasa, ia menceritakan masalahnya di kantor ke Hiramasa dan Mikuri. Yuri tidak ingin menjadi Bibi yang cerewet, dia tidak bermaksud membuli Horiuchi. Itu karena tulisannya Horiuchi yang hancur. Dan Yuri enggan untuk memberitahukannya ke Horiuchi secara langsung.

    Mikuri dan Hiramasa mendengarkan ocehan Bibi Yuri dengan seksama sambil mengangguk-angguk seperi anak SD diberi nasehat.

Yuri pikir akan cepat selesai kalau dia kerjakan sendiri tanpa menyuruh Horiuchi. Tapi itu tidak benar, melakukan pekerjaan yang harus Horiuchi lakukannya sendiri demi kebaikan dirinya sendiri. Meskipun Yuri tidak mau disebut bibi yang cerewet, ia juga tidak mau sampai disebut bibi yang mesum. “Aku benar-benar Muak!” kata Yuri berapi-api sambil membuka minumannya.

Mikuri dan Hiramasa menjadi ngeri melihatnya. (pfffft, aku mencoba membayangkan jika Yuri benar-benar menonjok Hiramasa di 5 part 2 ???, lucu apa sadis ya ? *mikir)

“Aku minta maaf, semua itu gara-gara kami.” Tiba-tiba Hiramasa merasa bersalah.

“Kenapa kita yang salah?” Mikuri menyela suaminya yang blo’on terlalu sopan ini. Mereka saling pandang, beda pendapat.

“Bukankah karena itu dia mengeluh pada kita ?”

“Apa kau mau memberiku julukan bibi yang agak rewel ?” Tebak Yuri setengah jengkel.

Yuri bilang karena dia kebetulan ada di sini dia akan mengeluh sedikit. Sedikit ?, Hiramasa kelepasan menanggapi. Mikuri langsung berdehem mengingatkan Hiramasa jangan menyelanya. Yuri lalu mulai bercerita.

“Sebenarnya selama setahun terakhir, aku telah menyimpan sedikit demi sedikit poin dari kartu kredit. Dan akhirnya sudah mencapai 50.000 poin.”

Mikuri dan Hiramasa menyelamati Yuri. Yuri mengambil sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya ke meja. “Aku tukarkan ini.”

“Tiket diskon penginapan untuk pasangan.” Baca Mikuri dan Hiramasa bingung.

     Hiramasa salah mengerti, ia pikir Yuri meminta izin dirinya untuk pergi menginap dengan Mikuri-san. Dengan senang hati Hiramasa mempersilahkan istrinya dan bibi tercinta jalan-jalan.

Yuri menunjuk keduanya, “Bukankah ini sudah jelas untuk kalian berdua ?”. Mikuri dan Hiramasa bagai disambar petir mendengarnya. Yuri menyuruh dua keponakannya itu untuk  menikmati bulan madu. (kkkkk, yipiiii! aku ngefans dengan Yuri-chan~ ❤ #abaikan)

     Mikuri mencoba mengeles, “Yuri-chan,… soal bulan madu kami…”

“Aku juga ada pekerjaan,” sambung Hiramasa. Yuri meletakkan kaleng minumannya ke meja dengan kasar. Kalau dia bilang pergi maka mereka harus pergi!. Kapan harus pergi? Sekarang, kan ?.

Mereka sudah pindah di kelas. Mikuri mengajar di depan, Mikuri dan Tsuzaki menjadi salah sau dari sekian orang yang mendengarkan Yuri.

“Kalau kalian terus berpikir nanti, nanti, dan nanti. Kalian akan punya anak, kalian tidak akan bisa pergi sampai 3 tahun lagi. Apalagi jika lahir anak yang kedua. Akan lebih sulit untuk pergi 3 tahun berikutnya.”

Mikuri mengangkat tangannya “Sensei !”

Yuri mempersilahkannya berbicara, Mikuri bilang ia dan Hiramasa belum berniat memiliki anak.

“Kalian terlalu optimis!” Bentak Yuri, ia lalu mendekati Mikuri dan Hiramasa. “Kalau hidup berjalan seperti yang direncanakan, aku pasti sudah menikah pada usia 27 tahun. Takdir jadi bibi yang cerewet dan melakukan pelecehan seksual. Siapa yang bisa menebaknya ?. Kalian paham ?”

Mikuri dan Hiramasa masih mendengarkan. “Hal-hal yang tak terduga mungkin saja terjadi. Itulah hidup.” Kata Yuri sambil mengibaskan rambut ringan dan menyelipkannya ke belakang telinga. Hiramasa teringat sesuatu dengan gaya dan cara bicara Yuri “Apa itu Kinpachi-sensei ?”

“Bukankah itu Hayashi-sensei ?” kata Mikuri. Mereka sudah ada di rumah lagi.

“Tidak, tapi sekarang agak terasa seperti aroma Kinpachi.”. Mikuri lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, Hiramasa juga melakukan hal yang sama.

“Kasarnya, apakah kalian akan tetap baik-baik saja. Siapa yang akan tahu. Karena itulah aku meminta kalian memakai tiket perjalanan pasangan ini. Sebenarnya, karena ada voucher makanan mewah atau resort spa, aku akan menggunakannya sendiri. Untuk apa aku memlih hal semacam itu.”

Hiramasa menyetujui Yuri, ia akan mengambil tiketnya dan pergi dengan Mikuri. Yuri terlihat lumayan tenang sekarang. Hiramasa dan Mikuri berunding kecil

“Kau tidak keberatan ?” Tanya Mikuri. Hiramasa bilang ini karena mereka tidak ada pilihan lain. “Maaf” kata Mikuri. “Tidak apa”

-=+-*+Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu||We Married As Job *+-+=-

    Di kantor Hiramasa sedang melihat-lihat panorama alam tujuan wisatanya dari sebuah situs. Tanpa sadar Hino memperhatikannya, apa Tsuzaki-san mau ke pemandian air panas ?. Hino memuji Tsuzaki bagus sekali berkali-kali. Hino menduga Tsuzaki mau bersama istrinya di dalam private room dengan pemandian outdoor ?.

Tsuzaki panik sekali, dia mengelak tidak ada pemandian terbuka di dalam kamarnya.

     Disaat yang sama Mikuri bertemu dengan Yasue, membicarakan perjalanan bulan madunya. Yasue komentar, setelah berendam apa Mikuri dan Hiramasa akan melakukan itu di ranjang yang besar. Mikuri menjawab nanti mereka akan pisah kasurnya kok, twin room. Tidak akan ada yang saling menggoda.

“Apa yang akan kau lakukan ?” Tanya Yasue.

“Apa yah yang akan kupakai ?” Kata Mikuri menerawang, ia dan suaminya lebih seperti teman, tapi belum jadi kekasih. Lebih hangat dan menyenangkan. Yasue tidak mendengarkan Mikuri, ia mengambilkan brosur merek pakaian dalam.

“Kau tidak benar-benar mendengarkanku, kan ?” Kata Mikuri.

Yasue melihat-lihat mana yang cocok, ia dapat itu dari stasiun tadi. Karena Yasue masih muda, Yasue pikir dia harus menikmati hidup. Mikuri tersenyum, mereka ini seumuran tapi kenapa Yasue seperti tante tante ?. Yasue masih sibuk melihat-lihat gambarnya, ia sekarang sedang istirahat dari kehidupan.

Mikuri bersyukur Yasue sekarang tinggal di rumah orang tuanya. Yasue menanggapi, dirinya memang tinggal di sana tapi dia merasa tidak punya rumah, ia enggan menceritakan detailnya apa yang terjadi, lagipula kalau Mikuri tahu pun tidak akan merubah apapun.

    Mikuri merentangkan tangannya, hari ini Yassan boleh memakan semuanya karena Mikuri akan mentraktirnya. Yasue senang, ia juga ingin makanan penutup ditraktir sekalian. Yasue lalu menunjukkan pilihan pakaian dalamnya ke Mikuri, walapun santai tapi tetap lucu, sebuah lingerin.

Mikuri melihatnya, ia juga memujinya lucu. Yasue menambahkan “Karena tokonya baru buka, ada diskon 30% off”

“Murah sekali !, tapi aku tidak mau membelinya” Mikuri mengembalikannya ke Yasue.

     Hiramasa Tsuzaki masih mengobrol dengan Hino. “Sejauh ini bahkan semuanya masih tidak jelas. Tidak ada yang menyenangkan.”

“Barangkali kalau kau jalan-jalan mungkin akan menyenangkan.” Usul Hino.

“Saat ini yang membuatku khawatir. Saat malam hari.” Kata Tsuzaki frustasi.

“Malam hari ?”

Sedangkan Tsuzaki memikirkan apakah dia bisa tidur, tampaknya Hino justru memikirkan hal yang lainnya. “Apakah aku akan benar-benar bisa tidur ?. Walaupun kamarnya twin room. Tapi aku tidak pernah sekalipun tidur sekamar dengan seorang wanita.” (Pernah kali ah!, dulu pas episode peluk-peluk kamu mikirnya pernah dipeluk ibumu waktu kecil -_-. Nah… kenapa gak mikir kamu pasti pernah tidur dengan ibumu waktu kecil yang jenis kelaminnya wanita, kan ?.  Emangnya ibu ada jenis lainnya ? XD hahahahahaha…)

Hino sudah punya solusi untuk Tsuzaki, Hino akan memberikan sesuatu yang bagus nanti. Dan Tsuzaki mengingatkan ke Hino kalau perjalanannya ini jangan sampai diberitahukan ke Numata-san.

“Memangnya kenapa ?” tanya Hino.

“Nanti dia mengatakannya pada Kazami-san. Kau juga benar-benar tidak boleh bilang pada Kazami-san.”

“Memang kenapa ?”

Seeet set set… Tsuzaki berbalik karena reflek. Dia merasakan auranya Numata. “Ada apa ?” tanya Hino bingung.

“Tidak.” Tsuzaki bilang dirinya merasa kalau Numata-san menguping pembicaraan mereka di suatu tempat.

“Karena itu dia bukanlah ninja.” Kata Hino dengan bercanda. Pokoknya Tsuzaki tidak ingin Hino mengatakan perjalanan Tsuzaki ke Numata atau pun Kazami. Hino menyanggupinya. Hino juga janji akan memberikan sesuatu yang bagus nantinya.

      Numata menguping di balik kursi panjang. Ia dengar sejelas-jelasnya pembicaraan Hino dan Tsuzaki. Lalu Numata menahan Kazami yang hendak mendekati Tsuzaki.

“Sekarang kau tak boleh pergi ke sana. Mereka pasti punya beberapa alasan. Sedang ingin menjauh darimu. Karena itu kau benar-benar tidak boleh kesana.”

“Apa yang terjadi ?” Kazami masih hendak menemui Tsuzaki.

“Maafkan aku.” Numata memegangi Kazami.

Alasan Tsuzaki tidak ingin Kazami tahu adalah… apakah Kazami akan cemburu jika tahu ia akan pergi dengan Mikuri ?.

    Tsuzaki di kamarnya, sedang duduk dan menata barang di tas, menyiapkan segala keperluannya. Ia akan menganggap perjalanan ini adalah perjalanan bisnis, ini demi kepentingan pegawainya. Tsuzaki lalu berdiri dan mengambil hadiahnya Hino. Katanya akan membantu Tsuzaki malam harinya yang khawatir.

Mikuri mengetuk pintu kamar Tsuzaki, menanyakan apakah Tsuzaki sudah siap.

    Mikuri mengatakan semua pintu sudah dikunci. Tsuzaki mengajak Mikuri berangkat sekarang.

Mikuri dan Hiramasa sudah ada di kereta, Mikuri memandang pemandangan “Baiklah, ayo ke Kyoto!”

“Bukankah tujuannya bukan ke Kyoto ?”

“Benarkah ?”

“Maaf. Bolehkah aku duduk di sampingmu ?. Aku merasa tidak nyaman kalau tidak menghadap searah dengan perjalanan. ”

Mikuri meminta maaf karena tidak menyadarinya, ia langsung memindahkan tasnya. Hiramasa pindah duduk di samping Mikuri.

“Perjalanan hari ini untuk kepentingan Mikuri-san.”

“Tidak, terimakasih atas perhatianmu selama ini.”

“Tidak, sama-sama. Akulah yang berhutang padamu.”

Mereka lalu makan bekal mereka bersama-sama.

    Mikuri dan Hiramasa melihat-lihat. Hiramasa menunjuk gunung yang ada di belakang mereka adalah gunung tertinggi di sini.

    Mereka juga pergi ke hutan bambu, walau hujan pemandangannya masih terlihat bagus menurut Mikuri.

Sesampainya di kamar. Keduanya syok besar-besaran melihat kasurnya hanya ada satu. Mikuri menahan si pelayan pergi, bukankah mereka pesan twin room ?. Pelayan mengatakan dia menerima perubahan pesanan. Mikuri menoleh ke Hiramasa. Hiramasa menggeleng-geleng, bukan dia yang mengubahnya.

Mikuri menelfon Yuri. pelaku utamanya adalah Yuri-chan.

“Kenapa ?”

“Itu karena penginapan menghubungiku untuk konfirmasi diskon penginapan. Kenapa penginapan bilang kalian malah memesan twin room.”

Yuri yakin tidak mungkin, tolong ganti daja double bed.

“Tapi aku butuh twin room.”

Yuri heran, bukannya kalian ini tidur bersama ?. Mikuri kelepasan, dia dan Hiramasa tidak tidur bersama.

    Mikuri dan Hiramasa mencoba mengganti, sayangnya pihak penginapan tidak bisa karena twin room sudah penuh. Hiramasa meminta ia dan Mikuri menyerah saja, ini bukan kesalahan pihak penginapan. Hiramasa meminta maaf pada petugas yang meladeninya karena telah mengganggu di tengah kesibukannya. Petugas tersebut meminta maaf. Hiramasa balas mengatakan tidak apa-apa.

    Menurut Mikuri dalam hati menyimpulkan, sifatnya Hiramasa Tsuzaki sangat berbeda dari pacar Mikuri di jaman SMA dulu. Saat itu ia dan Kaoru baru saja menerima pesanan. Kaoru memekik kenapa ini kecil sekali ?. Ia minta diganti.

Mikuri marah pada Kaoru, tapi kan Mikuri memang pesan ini tadi!. Kaoru tetap dengan pendapatnya, ia ingin diganti karena tadi Mikuri tidak tahu apa yang mereka pesan seperti apa.

Mikuri mencoba membayangkan jika saat itu pacarnya adalah Hiramasa-san. Dengan situasi yang sama, Mikuri yakin Hiramasa hanya memandangi cangkir kecil itu dengan bingung, memperbaiki letak kacamatanya dan berkomentar “Kecil sekali, ya ?”

“Apa mungkin, ukuran ini… “ Kata Mikuri agak menyesal.

“Kita harus belajar.”

“Benar,”

Mereka lalu meminumnya.

Komentar:

       Kenapa drama ini bisa lucu sekali ?, apakah manganya selucu dramanya ?. Bagi yang belum tahu, atau gagal fokus dari sinopsis buatanku eps 1 part 1, aku sudah mencantumkan kalau ini adalah adaptasi dari manga. Manga komik pasti lucu, aku yakin itu. Sense of humornya komik dan drama tentunya berbeda, aku tidak membaca manganya tapi aku punya ekspektasi kalau manganya pasti lucu.

And then…we-married-as-job

     Mohon maaf bagi yg sudah menontonnya, saya akan sensor kata-kata yg agak menjurus ke itu itu XD, kata orang biasa saja sih standar bahasanya, tapi gak biasa bagiku tuh…, menurutku tidak. yorosiku onegaisimasss~~~ mohon pengertiannya…

Semua ada waktunya kog, aku tidak ingin menjerumuskan siapapun ^^. Yang halus-halus saja… let it flow…. Let it flow~

Like FP baru blog ini untuk memberikan dukungan ke Authornya terus melanjutkan sinopsisnya, satu saja klik dari kalian merupakan penyemangat yang amat berarti. Dapatkan update-tan terbaru langsung dari admin blognya tanpa perantara. Just click here >>>>>FANPAGE

 

Advertisements

About Karissa Yi

Someone who can't live without drama. ["chariszha.com" - Can't Life without drama ]

Posted on 3 December 2016, in We Married as Job and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Eps 6 mmang bkin baper gimana….gitu…byk adegan konyol….bikin gemes.Karissa semangat terus ya bikin sinopnya!

  2. @annisa, okeh… hwaiting to me ! 😀

  3. trimakasih, benar-benar kejutan nggak nyangka ada tambahan 2 bagian sekaligus

  4. ya… dan kutunggu slanjuynya… ^^

  5. Thanks sinopsnya
    Lanjut donk cingu
    Semangat!!!

    💖💖💖

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s