Sinopsis Hippocratic Oath Episode 1 Part 1

  • hippocratic-oathDrama: Hippocratic Oath/ Hipokuratetsu No Chikai
  • Director: Akira Uchikata
  • Writer: Shichiri Nakayama (Novel), Eriko Shinozaki
  • Network: WOWOW
  • Episodes: 5
  • Release Date: October 2 – October 30, 2016

     Tsugano Makoto (Keiko Kitagawa) dan para rekan sejawatnya membaca sumpahnya Hipocrates,

1,5 tahun kemudian. Makoto mendatangi seorang pasien yang bernama Adachi. Makoto menanyakan keadaannya dan memeriksanya.

     Di sebuah ruang otopsi, Profesor Mitsuzaki memimpin otopsi. “Pukul 9:30 kita mulai otopsi,” Semua orang yang ada di sana menunduk untuk berdoa.

   Seorang pria berusia 45 tahun, tinggi 168, berat badan 64 kg. Panjang rambutnya 10 cm, beberapa diantaranya sudah memutih, diameter pupil matanya 0,5 cm, sekitar lubang hidungnya normal.

Teru Kashiyama memotretnya sembari Profesor Mitsuzaki berucap dan mengecek kondisi tubuh mayat.

Suara analisis Profesor Mitsuzaki juga direkam.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto mendatangi dr. Hideo Kajiwara, ia melaporkan keadaan Adachi-san yang mulai membaik dan secepatnya bisa pulang. dr. Hideo Kajiwara senang mendengarnya, selama Adachi-san di rumah sakit, Adachi-san tidak bisa minum, ini adalah pengobatan terakhirnya. Hideo Kajiwara meminta laporan pelatihannya Makoto Tsugano. Makoto undur diri sebentar, dia akan segera memberikan laporannya pada dr. Hideo Kajiwara.

Hideo Kajiwara kembali pada kesibukannya tadi.

  Profesor Mitsuzaki memotong saluran penafasan si mayat, ada yang aneh di sana. Profesor Mitsuzaki menyendokkan cairan yang ada di sana, ia meminta Teru Kashiyama membawa cairan tersebut ke Laboratorium.

     Detektif Kazuya Kotegawa menanyakan apa itu tadi ke Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki berkata tidak tahu. Kemudian Profesor Mitsuzaki membuka kepala si mayat.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

      Profesor Mitsuzaki sedang makan, Detektif Kazuya Kotegawa menanyakan hasil otopsi. Profesor Mitsuzaki akan memberikan laporan lengkapnya nanti jika sudah selesai. Sosuke Okamura mual melihat irisan daging di sumpit Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki sedang makan daging olahan, tidak bisakah kau membedakan daging yang dimasak dengan potongan tubuh mayat ?.

   Detektif Kazuya Kotegawa sedang terburu-buru, ia ingin tahu apa ada di organ pernafasan si mayat tadi. Profesor Mitsuzaki bilang itu adalah serbuk sari, ia tidak yakin detailnya yang terjadi pada mayat tapi itu semacam senyawa dalam bunga.

“Serbuk sari di saluran pernafasannya ?”

“Biasanya, jika terjadi sesuatu di saluran pernafasan. Kita mencoba meludahkannya, itu adalah sistem pertahanan tubuh. Selnya disebut ciliated ephitelial akan tetap berada di sini” Profesor Mitsuzaki menunjuk bagian yang dimaksud. “Itu artinya dia meninggal karena pernafasannya terganggu oleh serbuk sari”

    Detektif Kazuya Takegawa mengerti, dia memerintahkan Sosuke Okamura membuat laporan berdasarkan penjelasan Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa berterima kasih pada Profesor Mitsuzaki, ia hendak menjelaskan investigasi. Tetapi Profesor Mitsuzaki menolak, ia tidak tertarik pada investigasi kepolisian.

Profesor Mitsuzaki selesai makan dan beranjak dari duduknya menuju ke sisi lain ruangan.

     Detektif Kotegawa meminta Profesor Mitsuzaki mempersiapkan sertifikat otopsinya. Profesor Mitsuzaki juga meminta tolong pada Detektif Kotegawa untuk memberitahukan informasi jika menemukan mayat yang berada di dalam yuridiksinya Detektif Kotegawa, tidak perduli apapun penyebab kematian mayat-mayat tersebut.

   Detektif Kotegawa tidak mengerti kenapa Profesor Mitsuzaki meminta hal semacam itu, untuk apa tujuannya ?. Profesor Mitsuzaki melakukannya untuk mengumpulkan data.

     Hari ini Tuan Adachi-san keluar dari rumah sakit, Makoto, beberapa suster, dr. Kajiwara dan dr. Tsukuba melepaskan kepergiannya. Makoto memperbolehkan Tuan Adachi minum sepuasnya. dr. Kajiwara dan dr. Tsukuba mengingatkan jangan minum terlalu banyak demi keluarganya Tuan Adachi.

Tsukuba bertanya pada Makoto, apakah kau tertarik bekerja di kelas Kedokteran Forensik ?. Makoto menoleh, maksud anda kelas Kedokteran Forensik di Universitas Urawa ?. dr. Tsukuba membenarkannya. Tetapi Makoto berencana menjadi dokter Kedokteran Internal di rumah sakit ini setelah pelatihan.

Tsukuba juga tahu itu, dia bertanya tadi bukannya menyuruh Makoto Tsugano untuk menjadi dokter foreksik, dr. Tsukuba pun dengan senang hati menerima Makoto Tsugano menjadi dokter Kedokteran Internal RS ini. Pelatihannya Makoto sebentar lagi akan selesai, tapi nantinya Makoto Tsugano tidak akan memiliki waktu untuk mempelajari hal lain jika sudah tergabung di Bagian Kedokteran Internal. dr. Tsukuba pikir ini adalah waktu yang tepat bagi Makoto untuk belajar lebih banyak lagi, di sana nanti akan ada Profesor Mitsuzaki, dia adalah temanku. Aku telah memintanya menjagamu dengan baik.

   Makoto menuju ke Forensik Urawa, Makoto Tsugano berhenti sejenak memandangi bangunan tersebut. Lalu ia mengikuti tanda panah menuju tempat masuknya.

   Makoto sampai di ruangan kerja Profesor Mitsuzaki dan dokter Kashiyama. Makoto masuk dan memperkenalkan diri serta maksud tujuannya kemari, tetapi baik Profesor Mitsuzaki maupun dokter Kashiyama tidak ada yang tahu akan kedatangan anggota baru.

   Makoto menjelaskan dirinya akan belajar ilmu kedokteran forensik di sini sementara waktu.

“Kenapa setelah kematian harus segera dilakukan otopsi ?, jika kau sekarang ingin mempelajari ilmu kedokteran forensik sementara waktu, tidakkah kau sudah mempersiapkan diri ?” tanya Profesor Mitsuzaki tiba-tiba, Makoto tidak segera menjawab. Profesor Mitsuzaki menyuruh dokter Kashiyama menjelaskan,

“Suhu tubuh berkurang satu derajat tiap 1 jam sampai 10 jam setelah kematian, setelah itu suhu berkurang 0,5 derajat perjamnya. Titik kematian dan hypostasis menjadi menguat dalam 12 jam setelah kematian. Setelah 24 jam, gagal meregresi,  Kornea serta tubuh mayat mengering.”

Makoto meminta maaf karena tidak mengetahui apapun tentang itu. Dokter Kashiyama bertanya pada Profesor Mitsuzaki kenapa kita tidak menerima Makoto Tsugano menjadi staf sementara saja ?. Profesor Mitsuzaki tidak berurusan dengan manusia yang hidup.

Profesor Mitsuzaki beranjak dari duduknya dan menuju keluar, ia menanggapi. Karena manusia yang hidup menunjukkan kebohongan. Jangan lupa bawa file tes obat.

     Makoto mengiyakannya. Makoto hendak bertanya pada dokter Kashiyama. Dokter Kashiyama menyuruh Makoto jangan terlalu khawatir, aku asistennya Profesor Mitsuzaki, Kashiyama. Tunggu sebentar kami akan segera kembali.

“Mohon bimbingannya !” Seru Makoto setelah kedua orang tadi pergi.

     Makoto membalik salah satu lembar. Ia terkejut melihat foto bagian organ dalam mayat yang tersusun rapi memenuhi lembaran. Makoto menutupnya kembali, ia tertarik pada ruangan otopsi. Makoto masuk ke dalam ruangan tersebut.

     Hati-hati Makoto melangkahkan kakinya. Suara tetesan air dari keran, susunan toples berisi organ dalam, Makoto mengamati ruangan tersebut. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara telfon. Makoto mengangkat telfon tersebut. Terdengar suara seorang anak kecil meminta tubuh seseorang diotopsi.

  Makoto terkejut mendengar permintaan tersebut.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto Tsugano pergi menemui gadis yang menelfonnya. Makoto bertanya pada receptionist di mana gadis yang bernama Shinoda Nagisa. Tiba-tiba terdengar suara Shinoda Nagisa mengajak Makoto mengikutinya, Makoto berlari mendekati Nagisa. Makoto bertanya di mana ayah dan ibunya Nagisa. Nagisa bilang orang tuanya sedang bertemu polisi.

“Ayahmu menabrak pengendara sepeda kan ?. dan wanita pengendaranya meninggal kan ?”

“Itu bukan salahnya ayah !” Nagisa tidak terima ayahnya dituduh menabrak. Nagisa ingin dilakukan otopsi untuk tahu kebenarannya.

   Seorang polisi wanita dan Detektif Kazuya Kotegawa mendekati Nagisa dan Makoto. Detektif Kotegawa heran rupanya Nagisa benar-benar menelfon dokter untuk otopsi. Si polisi wanita mengajak Nagisa menemui ibunya. Nagisa membungkuk dalam-dalam memohon bantuannya dokter. Lalu pergi dengan polisi wanita.

    Detektif Kotegawa dan Makoto menatap kepergian Nagisa. Detektif Kotegawa menyebut “Anak-anak jaman sekarang memang luar biasa, dia menemukanmu di web dengan kata kunci Saitama dan Otopsi”

“Kau detektif ?, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ?”

     Detektif Kotegawa menjelaskan. Sekitar pukul 9 kemarin ayahnya Nagisa mengendarai mobil untuk berangkat bekerja, bukannya dilakukan otopsi tapi ayah wanita yang meninggal menyimpulkan putrinya meninggal karena ditabrak ayah Nagisa.

Flash back..

“Kau menyetir dengan kencang kan ?” tuduh petugas yang duduk di sebelah ayah Nagisa.

“Aku berhenti sebelum menabrak sepedanya !”

Detektif Kotegawa pikir jika wanita itu memang tertabrak mobil, apa mungkin percobaan bunuh diri ?. Tuan Shinoda juga berpikir demikian, iya iya !, mungkin begitu !.

Flash back end..

    Petugas yang menangani kasus tersebut mendekat, “Siapa dia ?” tanyanya ke detektif Kotegawa ketika melihat Makoto Tsugano. Kotegawa menjelaskan kalau Makoto adalah dokter dari Urawa. Petugas tersebut heran, tapi dia tidak meminta otopsi.

 Makoto meminta penjelasan akuratnya.

 Petugas tersebut duduk dan mencontohkannya dengan kotak tisu, mobilnya dari utara, lalu sepedanya tertabrak dari arah sebaliknya. Jika pengencara mobil mengemudi pelan harusnya bisa menghindar.

   Petugas tersebut kesal melihat Kotegawa membaca dokumennya tanpa izin. Dia merebutnya kembali. Intinya Petugas tersebut berpikir ini adalah kecelakaan lalu lintas biasa, tidak perlu melibatkan Detektif kelas atas dan tidak perlu dilakukan otopsi.

   Detektif Kotegawa mengobrol dengan Makoto, jadi.. dokter Makoto Tsugano dipindahkan ke Kedokteran Forensik Urawa ya ? . Makoto menjelaskan dia tidak dipindahkan, ia hanya sedang melakukan pelatihan, ia adalah dokter Kedokteran Internal.

       Detektif Kotegawa tidak perduli soal itu, ia meminta Makoto untuk menyampaikan pesan ke Profesor Mitsuzaki kalau   dirinya akan menemui Prof. Mitsuzaki nanti. Makoto terkejut ternyata Detektif Kotegawa mengenal Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa mengenalnya karena profesor Mitsuzaki sering diminta melakukan otopsi.

 Makoto dan Kotegawa melihat Nagisa dan ibunya keluar dari kantor polisi. Makoto bertanya, apa yang akan didakwakan pada ayah Nagisa jika memang terbukti kecelakaan mobil. Detektif Kotegawa menjelaskan, ayahnya Nagisa akan dituduh atas kelalaian dalam berkendara sampai menyebabkan kematian dan cedera. Setidaknya akan dihukum penjara 7 tahun lamanya atau membayar denda 1 juta yen. Jika dia dituntut ganti rugi… akan lebih kejam

     Korban bernama Kurita Masumi, usia 26 tahun. Saat kejadian Kurita Masumi sedang menuju ke super market. Makoto heran, bukankah Detektif Kotegawa tidak sedang dalam investigasi resmi, apa boleh mengcopy dokumen korban tanpa izin ?. dokter Kashiyama mengatakan kalau Detektif Kotegawa sering melakukan ini untuk menanyakan pendapat Profesor Mitsuzaki.

    Profesor ingin melihat sertifikat kematian dan laporan otopsi. Detektif Kotegawa telah mengcopy nya juga tanpa meminta izin, ia menyerahkannya ke Profesor Mitsuzaki.

   Detektif Kotegawa menjelaskan kalau Kurita Masumi darahnya pernah keracunan dan dirawat selama beberapa waktu di musim semi lalu. Setelah keluar dari rumah sakit Kurita Matsumi mempersiapkan pernikahannya.

      Makoto menyimpulkan, kalau memang begitu berarti tidak mungkin Kurita Matsumi bunuh diri. Harusnya ini adalah masa-masa paling bahagianya, keluar dari rumah sakit dan mempersiapkan pernikahannya.

    Menikah disama artikan dengan masa-masa paling bahagianya, menurut Profesor Mitsuzaki tidakkah kesimpulan Makoto Tsugano tadi berat sebelah untuk sebuah kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan ?.

“Pembunuhan ?” kata Makoto tidak percaya.

“Segala kemungkinan mungkin terjadi, seseorang mungkin memberinya obat tidur dan dia tertabrak dalam keadaan linglung.” Jelas Detektif Kotegawa.

“Itu tidak mungkin..” Makoto tetap tidak percaya.

“Tidak ada bukti sepedanya menghindari mobil, jika mobilnya datang ke arahmu kau akan mencoba mengerem dan berbelok menghindari mobil bukan ?. Malahan, sepedanya langsung tertabrak mobil” Kotegawa menunjukkan dokumen investigasi copy-annya.

Ada banyak kemungkinan, jadi Detektif Kotegawa ingin membuat kasus ini menjadi jelas. Mantan pacarnya, tunangannya, hubungan tunangannya dengan seorang wanita lain, ada banyak orang yang harus kita investigasi.

    Profesor Mitsuzaki melihat ada banyak perbedaan dari Sertifikat Kematian dan laporan otopsi. Bawakan tubuhnya kemari. Detektif Kotegawa mengiyakan permintaan Profesor Mitsuzaki.

    Makoto terkejut, tapi polisi sudah menyimpulkan kalau kasus ini adalah kecelakaan. Profesor Mitsuzaki menyuruh Detektif Kotegawa meminta izin ke keluarga yang ditinggalkan untuk otopsi jika secara yudisial otopsi tidak mungkin dilakukan. Detektif Kotegawa menyanggupinya.

Makoto mendekati Profesor yang sudah berpindah duduk di kursi kerjanya. Makoto mempertanyakan keputusan Profesor Mitsuzaki. Profesor tanya, apa aku berbuat salah ?

  Makoto pikir Profesor Mitsuzaki tidak seharusnya melakukan hal seperti ini. Orang tua almarhum Kurita Matsumi baru saja kehilangan putri mereka dan Profesor malah meminta izin melakukan otopsi. Mereka pasti tidak akan setuju dengan otopsi.

“Jika kau berpendapat seperti itu, silahkan tinggalkan tempat ini sekarang. Kedokteran forensik mencari kebenaran bukan untuk polisi maupun keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka”

“Lantas, demi apa ?”

“Ini demi hak masyarakat dan kesejahteraan. Jika seseorang meninggal kita akan memeriksanya dengan strategi terbaik, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Ilmu Kedokteran Forensik adalah Ilmu Kedokteran Sosial, terlalu berempati adalah kelemahan ego-mu”

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto mengecek keadaan temannya. Yuko. Makoto menanyakan apakah Yuko masih batuk kering. Yuko bilang dia sudah tidak apa-apa, cuman.. saat tidur dia kadang batuk. Makoto menyayangkan kenapa Yuko sering menyembunyikan sakitnya. Makoto mengecek Yuko dengan stetoskopnya.

Yuko percaya pada RS nya Makoto. Yuko tiba-tiba batuk, ia mengambil tisu dan menutupi mulutnya. Makoto mengusap-usap punggung Yuko, ia mengerti pasti tenggorokan Yuko sakit sekali, bersabarlah.

    Ibunya Yuko datang, ia menyuruh anaknya cepat sembuh dan segera menemukan suami masa depannya. Aku ingin menikmati waktuku juga.

Yuko malu mendengar candaan ibunya tersebut.

    Ibunya Yuko terlihat sedih sekali. Makoto bertanya apakah Yuko bermasalah atau kecape’an berolah raga ?. Ibu Yuko bilang anaknya sudah lama tidak keluar, ia juga mendesah akankah Yuko diobati dengan cara yang sama lagi ?. Namun ia segera menambahkan “Aku bukannya meragukan rumah sakitmu Makoto-chan.”

  Ibunya Yuko juga rajin memberikan Yuko obat dari dokter. Makoto merasa sama sedihnya, bakteri pnemunia memang agak sulit mengobatinya, dari hari ke hari keadaan Yuko semakin memburuk, namun Makoto percaya pengobatannya akan efektif. Makoto juga telah membaca literatur luar negeri, mari kita sembuhkan penyakitnya.

   “Benar, aku tidak boleh berkecil hati.” Kata Ibu mencoba kuat.

     Makoto memandangi tulisan Sumpahnya Hipocrates. Tak lama kemudian Profesor Tsukuba mendatanginya, Profesor Tsukuba tahu kalau Makoto sedang ada masalah pasti pergi kemari.

“Alasan kenapa aku memilih rumah sakit ini sebagai tempat pelatihanku adalah ini” Makoto mendongak memandang tulisan sumpahnya Hipocrates. Profesor Tsukuba ikut mendongak.

“Rumah sakit ini satu-satunya yang membacakan Sumpah Hipocrates pada hari pertama”

“Aku mengerti,”

“Bisakah aku kembali ke Kedokteran Internal ?”

Profesor Tsukuba terkejut, Profesor Mitsuzaki adalah dokter yang hebat. Makoto mengaku ingin menjadi dokter yang menyembuhkan orang, apa Profesor Tsukuba ingat Kashiwagi Yuko ?, dia adalah temannya Makoto dan Makoto ingin sekali menyembuhkan Kashiwagi Yuko. Bagi Makoto, meskipun di Kedokteran Forensik bisa mengetahui penyebab kematian seseorang, itu tidak menjadi penting toh jika tetap meninggal.

    Profesor Tsukuba bertanya pada Makoto, apakah Hipocrates mendiskriminasi antara yang hidup dan yang mati ?. Makoto tertegun sesaat, Profesor Tsukuba menunjuk sumpah Hipocrates dan membacanya, Hipocrates tidak membeda-bedakan pasiennya entah baik atau buruk wataknya, pria maupun wanita.              

     Profesor Tsukuba berkata, pasien yang hidup dan mati adalah pasien bukan ?. Jika Makoto ingin menyembuhkan temannya, serahkan saja itu pada Profesor Tsukuba , jadi Makoto teruslah belajar untuk memperluas pandangannya sebagai dokter. Dan Kedokteran forensik niscaya bisa membantu pasien.

   Makoto tersenyum mendengar nasehat Profesor Tsukuba . Lalu keduanya memandangi ikrarnya Hipocrates lagi.

     Detektif Kotegawa menemui atasannya, ia ingin meminta persetujuan otopsi. Kepalanya tersebut bersikeras kalau itu hanyalah kecelakaan lalu lintas pada umumnya. Detektif Kotegawa menyayangkan sikap Kepalanya tersebut yang terlalu menganggap remeh kasusnya, kenapa Kepolisian Prefectur Saitama memandang rendah kriminal. Kepalanya marah, apa Kotegawa sedang mengajarinya ?.

   Kotegawa memohon disetujui otopsi, sebentar lagi tubuh mayat tersebut akan dikremasi. Kepalanya tetap tidak mau, apa Kotegawa itu seorang dokter ?, kenapa tidak keluar saja dari kepolisian dan menjadi dokter ?. Kepala pergi diikuti beberapa bawahannya, ia melewati tempat duduk Sosuke Okamura, “Okamura, awasi dia !” katanya sambil menunjuk Kotegawa.

     Makoto datang ke tempat tersebut. Kotegawa mengajaknya ke sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sedang merokok, Kotegawa pun juga merokok. Makoto terlihat tidak nyaman duduk diantara para perokok “Karbon monoksida dari rokok menyatu dalam hemoglobin dan mengikis tenagamu. Yang berarti nikotin mengecilkan pembuluh darah kapiler dan meningkatkan tekanan darah.”

     Detektif Kotegawa tidak perduli, dia terus menyesap rokoknya. Makoto penasaran kenapa Detektif Kotegawa sangat ingin melakukan otopsi, Makoto bisa mengerti Profesor Mitsuzaki sangat menginginkannya karena beliau adalah dokter, sedangkan Kazuya Kotegawa adalah seorang detektif.

“Bisa kau perkirakan berapa banyak tubuh yang meninggal setiap tahunnya ?, “

“Apa ?” Makoto tidak mengerti apa maksud pertanyaan tersebut,

“Tahun 2015 sekitar 166.000 tubuh, dan 11% darinya dilakukan otopsi.”

“Hanya 11% ?. Bagaimana bisa seperti itu ?”

Kotegawa menjawab, karena kepolisian tidak memiliki cukup dana. Biaya operasionalnya terbatas. 8 dari 9 mayat kemungkinan dikremasi tanpa dilakukan otopsi jelas penyebab kematiannya.

“8 dari 9 ?” Makoto terkejut,

“Jadi kota ini adalah surganya kriminal,” Kotegawa hendak pergi ke kepolisian Prefectur Saitama. Makoto izin ikut pergi bersama Kotegawa.

     Nyonya Shinoda mendatangi tempat keluarga Kurita Masumi, ia membungkuk dalam-dalam memohon agar keluarga memberikan izin dilakukan otopsi.

Ibu Kurita Masumi di dapur sedang terisak, Ayah Kurita Masumi tidak habis pikir bagaimana bisa Nyonya Shinoda meminta dilakukan otopsi. Ayah pikir putrinya sudah cukup menderita, jika dilakukan otopsi putrinya pasti akan semakin menderita.

 

Advertisements

About Karissa Yi

Someone who can't live without drama. ["chariszha.com" - Can't Life without drama ]

Posted on 13 November 2016, in Hipokuratetsu No Chikai and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s